Baru Berusia 6 Tahun, Inilah Desa Muntai Barat yang Akan Dikunjungi Presiden Jokowi

Baru Berusia 6 Tahun, Desa Muntai Barat yang Akan Dikunjungi Presiden Jokowi di Desa ini orang nomor 1 di Indonesia ini akan menanam mangrove

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia Siti Nurbaya Bakar berkunjung ke Pantai Raja Kecik Desa Muntai Kecamatan Bantan, Minggu (26/9/2021) 


Baru Berusia 6 Tahun, Inilah Desa Muntai Barat yang Akan Dikunjungi Presiden Jokowi

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM -- Masyarakat Desa Muntai Barat Kecamatan Bantan tidak menyangka desa mereka akan di datangi orang nomor satu Republik Indonesia pada, Selasa (28/9/2021).

Kabar akan adanya kunjungan presiden RI di desa tersebut baru di dengar sejak beberapa hari lalu.

Tentu masyarakat Muntai Barat mendapat informasi akan datangnya Presiden Joko Widodo sangat senang. Bahkan mereka di sana sangat antusias bahu membahu mempersiapkan tempat yang akan di kunjungi presiden RI.

"Presiden mau datang ke sini menjadi suatu penghargaan bagi kami. Masyarakat bahkan membersihkan lingkungan sekitar rumah mereka untuk menyambut presiden," ungkap Sobari Kades Muntai Barat saat tribunpekanbaruwiki.com hubungi.

Menurut dia, penghargaan tersendiri bagi Muntai Barat karena presiden mau menginjakkan kakinya ke tempat mereka. Kalau dari segi usia Desa Muntai Barat baru berusia enam tahun mekar dari Desa Induk Muntai.

"Presiden rencananya datang mengunjungi pantai Raja Kecik yang ada di desa Kita. Pantai inipun baru kami jadikan tempat wisata Januari awal tahun kemarin," terangnya.

Rencananya besok Presiden Jokowi akan tiba menggunakan helikopter dan mendarat di lapangan SDN 4 Desa Muntai. Kemudian dari sekolah tersebut akan menuju Pantai Raja Kecik dengan mengendarai mobil.

Menurut dia, kawasan Pantai Raja Kecik ini sebenarnya sudah lama ditanami mangrove oleh warga Muntai Barat. Bahkan sudah sejak awal awal terjadi abrasi lagi dilakukan masyarakat secara swadaya.

Baca juga: Desa Muntai Barat Bengkalis Riau

"Namun saat itu sering gagal karena selalu dihantam gelombang pesisir Selat Melaka. Pada tahun 2016 lalu pemerintah membangunkan pemecah gelombang sepanjang 400 meter kemudian kembali di tanam mangrove dan saat ini sudah terlihat hasilnya," terang Sobarin.

Menurut dia, setelah berhasil sebagian mangrove yang hidup, masyarakat mulai berfikir untuk membuat tempat wisata baru. Karena pemandangan alam di pesisir Pantai Muntai Barat cukup indah dan langsung menghadap ke negara tetangga.

"Dari segi alam, pesisir pantai kami memang sudah indah, jadi tinggal buat jembatan menuju ke laut ke arah pemecah gelombang untuk menikmati pemandangan laut sekilas akan tampak pemadangan pegunungan negeri tetangga apalagi saat cuaca cerah pagi dan sore hari," jelasnya.

Inilah yang dilakukan kelompok masyarakat, sehingga awal tahun kemarin jadilah jembatan pantai Raja Kecik ini mengarah ke laut memuju batu pemecah gelombang. Disisi lain selain mengembangkan tempat wisata, upaya melawan abrasi tetap terus dilakukan.

Kelompok masyarakat Desa Muntai Barat terus melakukan upaya penanaman mangrove di bibir pantai ini. Karena kondisi abrasi di Desa Muntai Barat sudah mengkhawatirkan.

Baca juga: Kuliner Riau, Mie Sagu Lecah dan Mie Rebus Bengkalis

Saat ini saja sudah sepanjang enam kilometer bibir pantai Desa Muntai yang sudah tergerus air laut. "Kerugian masyarakat sangat luar biasa, ada yang kehilangan kebun, ada yang kehilangan permukimannya akibat abrasi," terang Sobari.

Memurut dia, jika dihitung dari tahun 1990 sampai saat ini sudah satu kilometer titik nol desa hilang jatuh ke laut dengan panjang bibir pantai sekitar enam kilometer. "Kita hitung hektare sudah ribuan hektare tanah masyarakat yang hilang," tambahnya.

Menurut dia, dengan kunjungan presiden besok usulan desa untuk menambah panjangnya pemecah gelombang diharapkan bisa diakomodir presiden. "Yang sudah ada hanya 400 meter dibangun 2016, mudah mudahan besok presiden lihat langsung mau menambah pemecah gelombang di daerah kita ada sekitar enam kilometer dari anggaran pusat," tambahnya.

Harapan yang sama juga diungkap Solihin yang merupakan pembina kelompok masyarakat Desa Muntai Barat dalam melakukan penanaman mangrove dan membuat tempat wisata Pantai Raja Kecik. Menurut dia dengan kedatangan presiden ini dirinya berharap pemerintah pusat bisa menambah pembangunan pemecah gelombang di desa Muntai Barat.

"Kalau ini dilakukan tentu penanaman mangrove yang dilakukan saat ini bisa hidup dan bertahan," terangnya.

Baca juga: Nikmati Durian Tembaga khas Bengkalis yang Mulai Langka

Menurut dia, kedatangan presiden besok juga akan melakukan penanaman mangrove di Pantai Raja Kecik. Mangrove yang akan ditanam sekitar dua puluh ribu bibit mangrove dengan lahan yang ditanam di pantai Raja Kecik seluas tujuh hektare.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved