Minta Masukan Ahli Epidemiologi, Pemprov Riau Akan Terapkan Belajar Tatap Muka Terbatas 75 Persen

Minta Masukan Ahli Epidemiologi, Pemprov Riau Akan Terapkan Belajar Tatap Muka Terbatas 75 Persen

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaruwiki.com/aan ramdani
Siswa SMP Negri 23 Menggunakan masker dan menjaga jarak saat belajar tatap muka hari pertama, Senin (8/2/2021) 

Minta Masukan Ahli Epidemiologi, Pemprov Riau Akan Terapkan Belajar Tatap Muka Terbatas 75 Persen

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM-- Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pendidikan akan menambah jumlah peserta didik dalam ruangan saat belajar tatap muka terbatas di sekolah. Saat ini persentase jumlah siswa dalam satu ruang kelas adalah 50 persen dari total daya tampung ruangan.

Pemprov Riau sedang mengkaji dan akan menaikkan persentasenya menjadi 75 persen dari total daya tampung di satu ruang kelas. Namun sebelum kebijakan ini diterapkan, Dinas Pendidikan akan meminta masukan dan rekomendasi dari Satgas Covid-19 dan ahli epidemiologi terkait kebijakan tersebut.

"Kalau sekarang perencanaan kita sekolah tatap muka masih 50 persen sesuai dengan ketersediaan kelas. Harapan kita setelah nanti dilakukan evaluasi Satgas Covid-19, Ahli Epidemologi dan para pihak di kabupaten/kota, sekolah tatap muka bisa meningkat 75 persen," kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Zul Ikram, Senin (27/9/2021).

Lalu kapan kebijakan ini mulai dijalankan oleh sekolah, Zul Ikram menyatakan sesuai dengan pemetaan yang dilakukan, ditargetkan pembelajaran tatap muka terbatas 75 persen ini dapat dijalankan oleh sekolah pada November mendatang.

Baca juga: Taekwondo Riau Kirim 10 Atlet ke PON XX 2021 Papua, Target Raih Medali Emas

Baca juga: Hingga September 2021, Karhutlla di Riau Hingga Seribu Hektare Lebih

"Insya Allah sesuai pemetaan yang kita buat, sekolah tatap muka tahap kedua (75 persen) November. Karena tahap pertama kita mulai awal September-Oktober. Kalau rekomendasi Satgas dan Ahli Epidemologi nanti sekolah tatap muka bisa dinaikan 75 persen, maka kita rencanakan pada bulan November," ujarnya.

Pihaknya mengklaim, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas tingkat SMA/SMK sederajat di Provinsi Riau sejauh ini berjalan lancar, sejak dimulai pada awal September lalu.

"Sekolah tatap muka tingkat SMA/SMK setelah kita evaluasi di kabupaten/kota sejauh ini tidak ada persoalan dan berjalan lancar," katanya.

Meski sejauh ini diklaim berjalan lancar, pihaknya mengingatkan satuan pendidikan untuk memperketat protokol kesehatan selama proses belajar mengajar.

Baca juga: Anggota HIPMI Riau Diminta Bisa Bersaing di Tingkat Global

Baca juga: Setahun Beroprasi, 4 Juta Kendaraan Lintasi Tol Pekanbaru-Dumai

"Kita juga sudah minta warga sekolah untuk taat azas protokol kesehatan. Kemudian sekolah harus mengingatkan orang tua untuk memonitor anak-anaknya," ucapnya.

Sebab kata Zul, penularan Covid-19 bisa saja terjadi di luar lingkungan sekolah, jika si anak berkeliaran di luar rumah dan tidak patuh dalam menjalankan protokol kesehatan.

"Karena setelah siswa pulang sekolah itu kita tidak bisa mendeteksi keberadaan siswa. Untuk itu perlu peran orang tua mengawasi anaknya, sebab kita khawatir penularan terjadi di luar sekolah. Itu perlu kita ingatkan, agar tidak terjadi klaster keluarga. Makanya kita harus taat azas, protokol kesehatan jangan kendor dan abai," ucapnya.

Sementara Satgas Penanganan COVID-19 meminta satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara hati-hati. Mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik dari penularan COVID-19 adalah keharusan.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan, ditemukannya berbagai kasus positif COVID-19 pada peserta didik di berbagai daerah, harus dijadikan pelajaran penting bagi daerah lain. Sehingga kasus serupa tidak terulang dan PTM dapat dijalankan dengan aman sehingga penularan COVID-19 dapat dicegah.

Baca juga: Serikat Mahasiswa Muslim di Riau Ikut Bantu Percepat Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Lima Atlet PON Asal Riau Terkonfirmasi Covid-19, Dua Orang Alami Gejala Ringan

"Oleh karena itu jika ada kasus positif, maka Segera lakukan penutupan sekolah untuk segera dilakukan disinfeksi, pelacakan dan testing kontak erat," kata Wiku yang disiarkan dan dapat diakses di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (24/9/2021).

Selain itu sekolah harus melakukan evaluasi penerapan pembatasan. Khususnya terkait penerapan protokol kesehatan seperti skrining kesehatan, pengaturan kapasitas dan jarak antar siswa di sekola sehingga tidak terjadi kenaikan kasus yang signifikan.

"Sekecil apapun angka kasus yang ada jika tidak ditindaklanjuti dengan baik dengan tracing maupun treatment yang tepat maka akan memperluas penularan," tegasnya.

Tak hanya itu, harus perhatikan juga peluang penularan di rumah, perjalanan maupun saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dan pastikan siswa dan tenaga pengajar secara disiplin mematuhi protokol kesehatan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Disamping itu, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi menyatakan per 23 September, dari 47.033 sekolah yang disurvei, hanya 2,77 % sekolah yang menimbulkan kluster kasus selama pembelajaran tatap muka dilakukan.

Untuk itu, saat ini terdapat dashboard perkembangan kasus di lingkungan sekolah perwilayah dapat diakses di alamat:sekolah.data.kemdikbud.go.id/kesiapanbelajar. Dengan fitur ini Pemerintah Daerah dan masyarakat dapat ikut memonitor angka kasus, klaster dan kejadian secara aktual.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved