Kisah Zulhairi, Penjual Nasi Barokah di Pekanbaru

Kisah Zulhairi, Penjual Nasi Barokah di Pekanbaru. Zulhairi merupakan pedagang nasi bungkus yang dijual Rp.5000 perbungkus

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com
Zulhairi berjualan nasi barokah Rp 5 ribu di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru. 

Kisah Zulhairi, Penjual Nasi Barokah di Pekanbaru

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM--Waktu subuh belum lama usai. Zulhairi, seorang pria paruh baya sudah sampai di pinggir Jalan Soebrantas Pekanbaru membawa nasi bungkus sebanyak hampir 200 buah untuk dijual.

Ia menjual nasi bungkus dengan harga Rp 5 ribu perbungkusnya. Nasi barokah namanya. Nasi itu ia jejer di atas meja. Belum lama ia berdiri di sana, pelanggan tampak datang tiap sebentar, silih berganti. Pria yang akrab dengan nama Herry ini kemudian tampak sibuk melayani pelanggannya.

Yang belanja tampak dari berbagai kalangan. Kebanyakan adalah warga yang bekerja sebagai buruh harian, tukang bersih jalan, namun ada juga sempat tampak sejumlah mobil tergolong dari orang berada berhenti untuk belanja nasi barokah.

"Nah, kalau yang pakai mobil itu adalah untuk sedekah bagi mereka, dan akan dibagikan nantinya. Apalagi setiap Jumat ini, saya sengaja memang buat lebihkan, karena biasanya banyak yang beli untuk sedekah dan dibagikan," kata Herry saat berbincang dengan tribunpekanbaruWIKI.com disela-sela jualannya, Jumat lalu (17/9/2021).

Baca juga: 7 Fakta Unik Satwa Landak

Jualan nasi barokah tersebut tampak sangat laris manis. Pelanggan yang datang langsung pesan lalu langsung beranjak. Tampaknya sudah memiliki langganan tetap. Sehingga, tak jarang sebelum pukul 08.00 pagi jualan nasi barokah tersebut sudah ludes.

Sejak menjual nasi barokah dalam dua tahun ini, pria asal Tembilahan ini mengaku hidupnya terasa menjadi lebih barokah, karena selain mencari nafkah ia juga biarkan untuk ibadah, membantu sesama, terutama dalam masa pandemi ini.

"Dulu saya bekerja di Jambi, menjadi koki di sebuah perusahaan di sana, sejak tahun 2005 sampai 2019 lalu. Namun saya merasa sedekah saya sangat kurang. Makanya ketika pindah ke Pekanbaru ini 2019, saya nyatakan bekerja sambil beribadah, Alhamdulillah ada jalannya diberikan Allah SWT," ujar pria 46 tahun ini.

Hari memasak berdua dengan istrinya mulai pukul 02.00 dini hari. Kemudian dilanjutkan dengan membungkus, hingga waktu subuh.

Baca juga: Berikut ini Syarat Donor Darah yang Harus Dipenuhi

"Setelah shalat subuh, saya langsung ke sini. Kebetulan tinggal tidak jauh dari sini di Jalan Amal, Jalan Soebrantas," ulasnya.

Adapun lauk yang disediakan cukup beragam, di antaranya adalah, ayam geprek, teriyaki, cumi sambal petai, teri, rendang hati, kemudian juga ada nasi lemak, dan aneka lauk lainnya.

"Untungnya memang tidak banyak, tapi berkahnya sangat terasa. Apalagi kita nyatakan untuk membantu sesama. Tak jarang juga kadang ada yang borong, kemudian minta dibagikan kepada yang butuh. Itu nanti biasanya saya bagikan ke tukang bersih jalan, pemulung, ojol, dan lainnya," imbuhnya.

Tak jarang juga yang memesan melalui telepon, untuk dilebihkan memasak, untuk tujuan sedekah. "Banyak juga yang nelpon minta dilebihkan masak, untuk sedekah dan dibagikan. Bagi yang mau pesan bisa menghubungi langsung ke nomor 082372825768," tuturnya.

Baca juga: Pendiri Kota Pekanbaru, Marhum Pekan Diusulkan Jadi Pahlwan Nasional

Baca juga: Mariani, Nenek 62 Tahun di Kampar Jadi Perhatian Sandiaga Uno Karena Nganyam Rumbia


--
(tribunpekanbaruWIKI.com/Alexander)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved