Mariani, Nenek 62 Tahun di Kampar Jadi Perhatian Sandiaga Uno Karena Nganyam Rumbia

Mariani, Nenek 62 Tahun di Kampar Jadi Perhatian Sandiaga Uno Karena Nganyam Rumbia

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com
Mariani, Nenek 62 Tahun di Kampar Jadi Perhatian Sandiaga Uno Karena Nganyam Kerajinan Rumbia 

Mariani, Nenek 62 Tahun di Kampar Jadi Perhatian Sandiaga Uno Karena Nganyam Rumbia


TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Seorang nenek menjadi pusat perhatian orang yang datang melihat kunjungan Menteri Parekraf, Sandiaga Salahuddin Uno di Objek Wisata Puncak Kompe Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar, Minggu (12/9/2021).

Nenek ini dengan jarinya begitu mahir membuat anyaman. Beberapa hasil anyamannya dipamerkan di stan dalam kunjungan menteri tersebut.

Dialah Mariani, nenek 62 tahun warga Desa Koto Mesjid. Ia asyik membuat anyaman di tengah keramaian yang memperhatikannya. Ia tetap fokus menyimpul tiap helai rumbai kering untuk membentuk wadah petak berukuran sekitar 10x5 sentimeter itu.

Tampak di sekililingnya beberapa hasil anyaman hasil karya tangan sang nenek. Ada tikar, keranjang yang kata Mariani bisa digunakan sebagai tempat nasi.

"Ini baru tadi mulai saya kerjakan," ucap Mariani menunjukkan anyaman yang sedang dikerjakannya kepada Tribunpekanbaru.com. Anyaman kecil itu akan selesai dia kerjakan.

Baca juga: Sandiaga Uno Buka Sayembara Cari Nama Baru Wisata Waduk Koto Panjang Kampar

Kerajinan berukuran kecil bisa diselesaikannya kurang dari sehari. Tetapi untuk anyaman yang lebih besar, bisa berhari-hari. Tikar misalnya. Lama pengerjaannya bisa sampai dua pekan.

Membuat anyaman memberi kesenangan tersendiri bagi Mariani. Di usianya yang sudah tua, ia bisa menghabiskan waktu luangnya dengan menganyam.

Keterampilan yang dimilikinya ini bukanlah pekerjaan utama. Sehari-hari, Mariani bertani di desanya. "Ini sampinga saja," katanya. Tetapi, keterampilan ini sudah digelutinya sejak puluhan tahun.

Mariani mewarisi kerajinan ini dari orangtuanya. Ia sudah belajar menganyam sejak anak-anak. Diajari oleh orangtuanya. Dahulu, ayaman dari rumbia ini merupakan mata pencaharian keluarganya selain bertani.

Ia memanfaatkan rumbia yang bangak tumbuh di desanya. Mariani dan masyarakat setempat menyebutnya "umbio". Jika dikeringkan, seperti pandan berduri yang juga banyak dimanfaatkan untuk bahan anyaman.

Menurut Mariani, umbio lebih kuat dari daun pandan berduri. "Kalau pandan, kena air mudah patah. Tapi umbio ini, lebih tahan," terangnya. Kini, ungkap dia, umbio kian terbatas dan sulit didapatkan.

Keterampilan ini memberi Mariani tambahan penghasilan. Hasil anyamannya sudah banyak yang dijual dengan harga beragam. Ayaman tikar paling mahal dengan harga Rp. 200.000 per helai.

Baca juga: Rosmita Jadikan Tenis Sebagai Rutinitas

Baca juga: Hilangkan Noda Hitam di Wajah dengan Terapi Intense Pulsed Light Glow


--
(tribunpekanbaruWIKI.com / Fernando Sihombing)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved