Produktif Saat Pandemi, Warga Teluk Rimba Bangkit  Budidaya Lebah Melifera

Produktif Saat Pandemi, Warga Teluk Rimba Bangkit , Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Budidaya Lebah Melifera

Editor: Aan Ramdani
Tribunpekanbaru.com
Administratur PT KTU Hubbal K Sembiring melihat proses pembibitan ratu lebah melifera di penangkaran lebah kelompok Tani Duo Rimbo Madu, dusun segintil, kampung Teluk Rimba, kecamatan Koto Gasib, Sabtu (31/7/2021)./mayonal putra 

Produktif Saat Pandemi, Warga Teluk Rimba Bangkit  Budidaya Lebah Melifera


TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Selain bertani di tanah sendiri, orang dusun Segintil, desa Teluk Rimba di pedalaman Riau juga beternak lebah. Mereka meninggali rumah-rumah yang berjarak dalam kepungan perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI). 


Dusun Segintil adalah dusun paling terpencil dari desa Teluk Rimba, kecamatan Koto Gasib, kabupaten Siak. Menjejaki dusun ini dari Siak, tribunpekanbaru.com harus melewati perkebunan luas milik berbagai korporasi. Menjajaki jalan-jalan tanah yang berlubang, sebagian kecilnya sudah beraspal. Jalan menuju dusun ini belum rata, tetapi pembangunan pemerintah kabupaten Siak sudah mulai berangsur masuk. 


Dusun Segintil dipisahkan sungai Siak dari induk desanya. Untuk sampai di sana, tribunpekanbaru.com harus menumpangi sampan mesin. Cukup dengan ongkos Rp 5 ribu, kami pun sampai di pinggir dusun Segintil. 


Tribunpekanbaru.com menelusuri dusun yang didiami 100 Kk ini, Sabtu (31/7/2021). Warga di dusun ini hidup rukun dan berpenghasilan cukup, rata-rata mereka berkebun sawit dan karet. Meski hanya dihuni 100 KK, namun dusun ini sangat luas, jalannya berkilo-kilo meter. Dari jalan yang panjang itu, kurang 1 Km saja jalan yang sudah disemenisasi, sisanya jalan tanah dengan kubangan lumpur yang minta ampun. 


“Pemerintah tidak bisa mengaspal jalan ini, karena katanya tanah konsesi PT Arara Abadi,” kata Rahmat,  warga Segintil kepada Tribunpekanbaru.com. 


Ia mengajak kami melihat penangkaran lebah melifera, yang menghisap saripati daun-daun dan bunga tumbuhan akasia dan mengahasilkan madu berkualitas. Dari kediamannya, kami naik mobil pickup mengikuti lumpur-lumpur hidup sepanjang 3 Km. Dari kejauhan, terlihat hamparan luas tumbuhan akasia, bahan baku untuk produk yang dihasilkan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) -APP Sinar Mas Grup dengan pipa-pipa asap yang menjulang di Perawang, Kecamatan Tualang. 

Baca juga: Kisah Rojali, Penjual Kotoran Sapi di Siak Riau Kantongi 6 Juta Perbulan


“Akasia ini milik PT Arara Abadi, sebagian permukiman kami ini katanya berada di lahan konsesi mereka sebagian lain  berada salam hutan tanaman rakyat (HTR). Kami tidak begitu mengerti dengan istilah itu, tapi sekarang kami sudah mencoba mengurus surat tanah kami sendiri,” kata Rahmat. 


Dalam perjalanan itu, kebun sawit dan kebun akasia dibelah jalan tanah selebar 7 meter.  Sebelah kanan kami, hamparan akasia membentang sejauh mata memandang dan, sebelah kiri terlihat  kebun sawit yang setengah semraut. Di dalam kebun sawit itu terlihat ratusan kotak dipajang tak beraturan. Itulah penangkaran lebah melifera milik Kelompok Tani Duo Rimbo Madu yang diketuai Amri (41). 


Penangkaran lebah melifera itu baru dimulai sejak Juli 2020. Hasil produksinya sudah dijual kemana-mana, bahkan sudah sampai ke negeri Paman Syam, Amerika Serikat. Karakter madu yang dihasilkan juga cukup unik, warnanya coklat mengkilat kehitaman dan rasanya kental dan manis. Meski hasil produksi lebah melifera mereka diminati, tetapi Kelompok Tani Duo Rimbo Madu ini belum mendapatkan pelanggan tetap. 


Informasi ini yang membuat PT Kimia Tirta Utama (KTU), Astra Agro Lestari Grup tertarik untuk membantunya. Administratur PT KTU Hubbal K Sembiring dan Asisten CSR PT KTU Slamet Riyadi datang ke Segintil, menyusul Bupati Siak Alfedri dan Wakil Ketua I DPRD Siak Fairus dan rombongan. Mereka melihat penangkaran lebah madu melifera yang baru eksisting sejak masa Pandemi Covid 19 tahun lalu. 


“Anggota kelompok tani kami ini 22 orang mendirikan penangkaran lebah melifera ini sejak Juli 2020 lalu. Kami terinspirasi dari jemaah tablik yang masuk ke sini dan mengenalkan kami dengan lebah melifera ini,” kata Amri kepada Tribunpekanbaru.com. 


Amri bertutur, saat ini kelompoknya sudah mempunyai 700 kotak penangkaran. Satu kotak penangkaran menghasilkan madu paling sedikit 2 Kg dan paling banyak 4 Kg. Sebanyak 700 kotak yang dimiliki bisa menghaislkan 2 ton madu, dengan masa panen 2 minggu sekali. 

Baca juga: Tengku Said Eka Nusirhan, Warga Siak Riau Dirikan Rumah Produksi Minyak Atsiri


“Selama ini kami menjualnya kepada pemesan dengan kemasan derigen 50 Kg, dengan harga Rp 4 juta, rata-rata 1 Kg seharga Rp 80 ribu,” kata Amri. 


Jika rata-rata hasil panennya 2 ton per dua minggu, kelompok tani yang diketuai Amri ini menghasilkan uang Rp 160 juta. Sebulan 22 orang yang tergabung dalam kelompok tani itu menghasilkan uang Rp 340 juta. 


“Kami beruntung memulai usaha ini sejak Juli 2020 lalu, ada usaha pada masa pandemi Covid 19 ini yang sangat menguntungkan,” katanya.


Menurut Amri, hasil panen madu yang melimpah saat cuaca tidak terlalu panas dan tidak hujan. Bila musim hujan atau panas terik hasil panen agak berkurang. 


Ia menerangkan, penangkaran lebah melifera itu sengaja dibuat berdekatan dengan hamparan akasia, karena karakter lebahnya memakan saripati daun dan bunga akasia. 


“Lebah ini unik tidak menyengat, kita buat penangkaran yang berdekatan dengan makanannya,” katanya.


Kotak-kotak penangkaran itu didatangkan dari Jawa termasuk dengan lebahnya sendiri. Dalam satu kotak berisi 8 jaringan yang akan menjadi sarang para lebah. Penangkaran ini juga menciptakan ratu lebah untuk mengahasilkan telur di setiap jaringan di dalam kotak. Sehingga lebah ini terus bereproduksi dan berproduksi sepanjang waktu. 

Baca juga: SEACHA Pilih Siak Jadi Role Model Manajemen Heritage Clinic Program


“Saat ini kami keteteran untuk pemasaran, kami berharap PT KTU membantu pemasaran kami,” kata Amri. 


Selain musim yang menjadi kendala, hewan endemik di kawasan itu juga mengancam. Namanya di kawasan hutan yang berubah menjadi HTI, sisa -sisa generasi hewan buas yang terancam punah semacam beruang masih berkeliaran di sana. Amri terpaksa mendirikan pondok dan menyewa penjaga penangkarannya. 


“Bila datang beruang, penjaga yang mengusirnya dengan mercon. Kalau tidak dijaga madu -madu ini bisa habis sama beruang,” kata dia. 


Kepala desa/penghulu kampung Teluk Rimba, Mubarok mengatakan, kelompok Tani Duo Rimbo Madu ini mandiri, modalnya merupakan patungan para anggota. Di Segintil, juga terdapat kelompok tani lain yang mempunyai penangkaran lebah melifera. 


“Kelompok tani ini yang asli warga Segintil, sedangkan yang lain adalah pihak luar yang membuka usaha penangkaran di Segintil,” kata Mubarok. 


Anggota kelompok tani Duo Rimbo Madu tersebut juga merupakan Mayarakat Peduli Api (MPA). Hal itu menambah alasan PT KTU hadir ke penangkaran itu dengan memberikan bantuan botol kemasan. 

Baca juga: Mimbar Masjid Syahabuddin di Siak Riau ini Sudah Berusia 300 Tahun


“MPA merupakan ujung tombak dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Kabupaten Siak dan wilayah kerja PT KTU,” kata Administratur PT KTU Hubbal K Sembiring.


Pihaknya perlu memberikan penguatan kepada MPA berbasis usaha ekonomi di Segintil Desa sebagai bentuk apreasiasi dan stimulan. 


Hubbal K Sembiring  menyampaikan,  dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan perlu adanya apresiasi kinerja MPA, yaitu melalui stimulus peningkatan ekonomi.  Menurutnya ada beberapa alternatif kegiatan yang dapat dilakukan guna meningkatkan ekonomi, yaitu budidaya lebah madu hutan mellifera. Prinsip utama dalam usaha peningkatan ekonomi MPA adalah harus melihat potensi lokal yang ada, disusul dengan proses pemanfaatan dan pemberdayaan. 


Pada kesempatan ini PT KTU membantu pengadaan botol kemasan untuk kelompok tani tersebut. Tujuannya untuk mendongkak penjualan madu yang dihasilkan oleh kelompok tani Duo Rimbo Madu dusun Segintil. 


“Kegiatan kelompok tani Duo Rimbo Madu sangat membantu untuk patroli pencegahan Karhutla sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat,” kata dia.


Sementara itu, Bupati Siak Alfedri mengatakan, budidaya lebah madu melifera  memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. 

Baca juga: 4 Fakta Menarik Sultan Syarif Kasim II


"Kami lihat usaha ternak madu di sini cukup produktif, dapat membantu mengerakan ekonomi masyarakat,"ujarnya.


Dari diskusi yang berjalan, para peternak lebah mengeluhkan sulitnya pemasaran, terutama saat panen madu melimpah.


"Melalui dinas Koperasi dan UMKM kita minta nanti mencari jalan keluar bagaimana pemasaran madu ini bisa lancar. Apakah kita bentuk kelembagaan yang khusus menanggani pemasaran mulai dari lebel, kemasan dan stok harapan kita, madu Siak bisa di ekspor ke Malaysia,"harapnya.


Alfedri juga meminta pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah Koto Gasib seperti PT Kimia Tirta Utama turut membantu membentuk kelompok ternak lebah baru di kampung lain. 


"Kami minta PT KTU Gasib selain memberikan bantuan kemasan madu juga membantu pemasaran madu, dengan meminta karyawan membeli madu dari kelompok tani Duo Rimbo Madu. Selain itu juga dapat membentuk kelompok baru di desa lain, seperti di Buatan Satu di sekitar wilayah oprasional PT KTU," katanya. 


Ia berharap, Budidaya ternak lebah madu di Teluk Rimbo menjadi contoh bagi kampung lain. Budidaya lebah madu juga dimasukkan ke dalam program 1000 UMKM di Pemkab Siak.

Baca juga: Kisah Herman, Petani Holtikultura Sukses Asal Siak Riau

Baca juga: Heboh Harimau Sumatra Mangsa Ayam Milik Warga di Siak Riau

 

 

 

 

--

(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved