Angka Stunting di Pekanbaru Masih Tinggi

Angka Stunting di Pekanbaru masih tinggi.Tertinggi di Kelurahan Rejosari terdapat 69 balita yang alami Stunting

Editor: Aan Ramdani
dok.riau.go.id
Tim Dinas Kesehatan Provinsi Riau saat verifikasi data situasi stunting di Kabupaten Rokan Hulu tahun 2018 lalu. 

Angka Stunting di Pekanbaru Masih Tinggi

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM- Puluhan balita di Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan pada balita. Jumlah balita yang mengalami stunting di kelurahan itu mencapai 69 balita.

Data Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM), Kelurahan Rejosari jadi satu kelurahan yang cukup tinggi kasus stunting. Ada 15 kelurahan yang terdapat kasus stunting di Kota Pekanbaru.

Kelurahan tersebut yakni Rejosari, Suka Mulia, Melebung, Tanjung Rhu dan Bencah Lesung. Lalu Pesisir, Rumbai Bukit, Tuah Negeri, Bambu Kuning dan Sialang Sakti.

Kelurahan lainnya yakni Tirta Siak, Tebing Tiggi Okura, Air Dingin, Limbungan Baru dan Lembah Sari. Jumlah balita yang stunting di belasan kelurahan itu mencapai 436 orang dari total 9.794 balita di seluruh kelurahan itu.

Secara keseluruhan ada 50.009 balita di Kota Pekanbaru. Mereka menyebar di 83 keluahan yang ada.

Baca juga: Sedang Latihan Terbang, Pesawat Tempur F-16 Temukan Titik Karhutla di Kampar

Kondisi tersebut membuat belasan kelurahan ini menjadi titik fokus penanganan stunting. Banyak dari kelurahan itu merupakan kawasan pinggitan yang minim akses layanan kesehatan dan sanitasi.

Wali Kota Pekanbaru, Firdaus tidak menampik bahwa banyak kasus stunting di kawasan pinggiran. Kasus ini juga dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat.

"Jadi 15 kelurahan tersebut mesti jadi lokasi fokus penanganan fokus dalam penanganan stunting," terangnya dalam rembuk stunting sebagai aksi konvergensi dan pencegahan stunting di Kota Pekanbaru, Kamis (22/7/2021).

Firdaus pun mendorong seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait bisa fokus dalam menangani ratusan kasus stunting. Ia menyebut programnya mesti berisinergi dengan masyarakat.

"Program pencegahan stunting harus terintegrasi dan melibatkan sinergi semua pihak," paparnya.

Firdaus mengatakan bahwa stunting ini terjadi akibat anak kurang gizi. Kondisi ini berdampak buruk bagi bayi dan balita.

Satu akibatnya tinggi badan balita tidak ideal sesuai dengan usianya. Kondisi ini juga mempengaruhi kecerdasan anak.

"Selain upaya akses kesehatan, maka harus ada  upaya pemenuhan gizi balita," ujarnya.

Baca juga: Tempat Isolasi Mandiri Mulai Penuh, Pemprov Riau Akan Tambah Jumlah Tempat Tidur


Gelontorkan Anggaran Rp 35 Miliar


Pemerintah Kota Pekanbaru menggelontorkan anggaran mencapai Rp 35 miliar untuk mendukung upaya mencegah kasus stunting pada balita. Alokasi anggaran terbanyak untuk bidang kesehatan.

Jumlah anggaran penanganan stunting di sektor kesehatan mencapai Rp 21 miliar lebih. Kebanyakan untuk mendukung layanan akses kesehatan bagi ibu dan balita.

Wali Kota Pekanbaru, Firdaus menilai cara mencegah kasus stunting yakni meningkatkan layanan gizi bagi ibu hamil dan balita. Mereka juga mesti mendapat akses bahan pangan hingga layanan kesehatan.

"Kita berupaya agar pada tahun 2022 sudah zero stunting," terangnya dalam rembuk stunting sebagai aksi konvergensi dan pencegahan stunting di Kota Pekanbaru, Kamis (22/7/2021).

Baca juga: Hidayati Termotivasi Orangtua Jadi Pendidik

Firdaus mengaku bahwa pemerintah kota punya keterbatasan anggaran dalam menangani kasus stuning. Ia menilai perlu melakukan rembuk agar bisa mengajak semua pihak ikut serta dalam upaya mencegah kasus stunting.

Dirinya mengajak lembaga dan berbagai pihak ikut membantu upaya menurunkan angka stunting. Ia menyebut anggarannya bisa bersumber dari CSR dunia usaha, hibah, infak, wakaf dan kegiatan lainnya dalam meningkatkan akses layanan kesehatan dan layanan sanitasi.

Tahun 2022 mendatang pemerintah kota mengalokasikan anggaran sebesar Rp 82 miliar untuk mencegah kasus stunting. Upaya mencegah stunting ini melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

OPD yang terlibat yakni Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Lalu Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru, Dinas PUPR Kota Pekanbaru dan Dinas Perkim Pekanbaru. Lalu Dinas Sosial Pekanbaru, Disdalduk KB Kota Pekanbaru, DP3AM Kota Pekanbaru, Bappeda Kota Pekanbaru dan Disdukcapil Kota Pekanbaru.

Baca juga: Perusda Rokan Hulu Jaya Perkenalkan Produk Batik Corak Rohul Kepada Wagubri

Rembuk ini bertujuan untuk memastikann adanya upaya penurunan kasus stunting secara terintegrasi. Ada juga komitmen bersama dalam menurunkan kasus stunting.

Kasus stunting di Kota Pekanbaru mengalami penurunan dari tahun 2019 sebesar 18,58 persen. Lalu pada tahun 2020 turun menjadi 2,24 persen.

Ada 15 kelurahan di Kota Pekanbaru bakal menjadi fokus penanganan stunting. Kelurahan itu masuk dalam zona merah stunting.

Baca juga: Desa Bukit Intan Makmur Rohul Masuk Nominasi 7 Desa Pangan Aman Nasional

Baca juga: Kampung Tangguh Binaan Polres Bengkalis Siapkan Budidaya Porang


--
(tribunpekanbaruWIKI.com/Fernando Sikumbang) 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved