Kisah Herman, Petani Holtikultura Sukses Asal Siak Riau

Herman, ia merupakan salah satu petani hotikultura di kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau yang terbilang s

Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Herman petani hotikultura di Kabupaten Siak Riau 


Kisah Herman, Petani Holtikultura Sukses Asal Siak Riau


TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM- Herman, ia merupakan salah satu petani hotikultura di Kapung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau yang terbilang sukses.

Sebelumnya Herman merupakan pekebun kelapa sawit yang beralih menjadi petani tanaman hotikultura.

Baru-baru ini, Herman merasakan kenikmatan hidup dengan hanya menanam kangkung, bayam dan sejumlah komoditas hortikultura lainnya di desanya. Meski sibuk di ladang kangkung setiap hari, tetapi usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Setidaknya, dengan hasil panen kangkung dan komoditas tanaman muda yang digeluti, Herman telah mendapatkan hasil Rp 23 juta bersih per bulan.

“Sejak saya beralih ke hortikultura ini paling sedikit saya mendapat hasil bersih Rp 20 juta, itu paling sedikit. Rata-rata ya Rp 23 juta. Memang kita sibuk di ladang tetapi semakin menarik dan menyenangkan,” kata Herman saat berbincang dengan tribunpekanbaru.com, Selasa (6/7/2021).

Baca juga: Herman Siswanto, Petani Asal Siak Riau Sukses Jadi Petani Holtikultura

Awalnya, Herman merupakan petani kelapa sawit dengan luas lahan 2 Ha. Ia termasuk petani sawit yang ragu untuk beralih ke hortikultura karena belum melihat keuntungan pada tanaman sayur-sayuran. Karena penasaran yang tinggi, awalnya ia mencoba menanam kangkung di sudut lahannya terlebih dahulu, ternyata memberikannya keuntungan yang signifikan bagi perkembangan ekonomi keluarganya.

Dari situ, muncul keinginan untuk beralih haluan, dari sawit ke hortikultura, menumbangkan pokok sewit untuk menanam kangkung, bayam dan sejenisnya. Selain bayangan hasil yang lebih menjanjikan, Herman juga tidak ingin lahan yang dimilikinya dirasuki Karhutla jika masih bertahan di kebun sawit tersebut. Ia pun berbelok menjadi
Petani Sayur dan ikut ke dalam Program Kemitraan Desa Makmur Peduli Api (DPMA) PT Arara Abadi- APP (Asia Pulp & Paper) Region Riau, di desa Pinang Sebatang Barat, kecamatanTualang itu.

Keuletan Herman tidak kalah dari petani lain yang sudah lama masuk ke dalam program kemitraan itu. Bayangkan saja, dari awalnya hanya punya 2 Ha lahan kelapa sawit, kini sudah memiliki lahan perkebunan dan pertanian seluas sekitar 4,5 Ha.
Berbagai tanaman pertanian dan perkebunan usia muda tumbuh subur di atas lahannya tersebut.

“Dari lahan awal 2 Ha, saya menyisihkan ¼ ha dari lahan yang saya miliki untuk pertanian hortikultura seperti sayur dengan dua jenis tanaman, yaitu bayam dan kangkung,” kata Herman.

Baca juga: Sulis, Petani di Pekanbaru yang Sukses Kembangkan Kebun Lengkeng

Dalam bincang ringan dengan Tribunpekanbaru.com, Herman berkisah; awalnya ia adalah petani/pekebun sawit dengan 2 ha dan jadi buruh tani. Upaya itu ia lakoni bertahun lamanya, namun dapat pagi habis petang, perekonomian keluarga tidak terbangun dengan baik. Belum lagi ancaman yang menakutkan datang setiap musim kemarau, yakni Karhutla. Petani sawit harus hati-hati menjaga kebunnya baik-baik.

“Secara ekokomi tidak mendapatkan hasil yang baik dari kebun sawit itu. Perlahan-lahan sebagian areal sawit saya tersebut saya ubah dan saya tanami dengan tanaman pertanian muda, seperti bayam dan kangkung seluas ¼ Ha,” kenangnya.

Sisanya, masih ada sawit dan buah melon. Dari ¼ ha lahan pertanian sayur tersebut, ternyata ia dapat menghasilkan 600 ikat sayur bayam, kangkung, kangkong dan kacang panjang setiap harinya. Ia merasakan perubahan drastis dari “kegilaan” menanam sayur itu.

“Omzet saya perbulan bisa mencapai Rp 40 -Rp 70 juta setiap bulan dengan modal awal saya Rp 20 juta,” kata dia.

Dengan demikian, ia mendapatkan penghasilan bersih setiap bulan Rp 20 -23 juta. Jika dikalikan 1 tahun, maka total penghasilannya mencapai Rp 600 -900 juta lebih kurang.

“Berkat perkembangan usaha dan keuntungan dari sayuran ini, saya telah membeli lahan di sekitar areal saya, saat ini lahan saya sudah mencapai 4,5 ha, yang akan saya tanami berbagai komoditas hortikultura lalu saya ucapkan selamat tinggal kepada kelapa sawit,” kata pria ramah itu sambil tertawa.

Baca juga: Kisah Rojali, Penjual Kotoran Sapi di Siak Riau Kantongi 6 Juta Perbulan

Jika dibanding dengan hasil kebun sawitnya sebelumnya, ia hanya mendapatkan sekitar Rp 2,5 juta. Perbandingan itu, sangat jauh perbedaannya dengan hasil pertanian hortikultura yang digelutinya saat ini.

“Ada banyak keuntungan beralih dari sawit ke hortikultura, pertama ekonomi meningkat, kedua lahan terjaga dari api Karhutla. Was-was sebelumnya hilang karena kita hampir setiap hari berada di ladang,” kata dia.

Kemudian untuk membersihkan lahan pertanian hortikultura tersebut ia tidak menggunakan cara membakar, barang sedikit pun.

“Baru saya tahu, jika membakar akan merusak unsur tanah, dan bisa membuat “pentil” dan “bunga” tanaman rontok, dan itu merugikan petani, juga merugikan anak kita yang tidak bisa bersekolah karena asap, belum lagi kerusakan lingkungan dan kesehatan. Meskipun saya petani, harus juga tahu tentang kerugian membakar ini,” kata dia.

Ia melanjutkan ceritanya, dahulunya, menjelang 2015 dan sebelum bekerjasama dengan PT Arara Abadi-APP Sinar Mas, ia membersihkan lahan melalui jalan singkat. Sebab begitulah cara berpikir petani kala itu, yang ingin cepat selesai dan sama sekali tidak tahu aturan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved