Mimbar Masjid Syahabuddin di Siak Riau ini Sudah Berusia 300 Tahun

Mimbar Masjid Syahabuddin di Siak Riau ini Sudah Berusia 300 Tahun, di bagian kubah mimbar terdapat angka bertulisan Arab 1178 masehi

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaruwiki.com
Penampakan mimbar dan mihrab masjid Syahabuddin, Siak Sri Indrapura. 

Bangunan masjid ini telah mengalami perbaikan beberapa kali namun masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Masjid ini telah menjadi saksi sejarah hadirnya Kerajaan Melayu Islam di Siak Sri Indrapura, Propinsi Riau. Masjid ini dibangun pada 1926 M pada masa Sultan Al Said Al Kasyim Abdul Jalil Saifuddin, (Sultan Syarif Kasim II), merupakan Raja Kerajaan Siak yang terakhir. Nama Syahabuddin berasal dari gabungan kata syah dan al-din. Kata syah berasal dari bahasa Persia yang berarti penguasa, sedangkan kata al-din berasal dari bahasa Arab yang berarti agama.

“Mungkin penamaan Masjid Syahabuddin dimaksudkan sebagai lambang bahwa Sultan/Raja bukan hanya penguasa negara, melainkan juga sekaligus seorang penguasa agama (Syahabuddin),” kata Husni Merza.

Bangunannya pernah beberapa kali mengalami perbaikan dan penambahan bangunan baru di kanan dan di kiri masjid.

“Dalam sejarahnya, pembangunan masjid ini dari anggarkan dari khas kesultanan, serta partisipasi berupa infak dan sedekah dari masyarakat, bantuan masyarakat ini dianggap dalam hal penyelenggaraan kegiatan dakwah,” kata dia.

Setelah masjid didirikan, maka Sultan Siak langsung mengangkat Takmir atau pengelola/pengurus masjid. Pada zaman itu masjid sudah dikelola dengan manajemen yang modern.

“Berarti masjid Syahabuddin ini telah mencontohkan pengelolaan yang benar dan modern sejak zaman kesultanan. Ini menjadi spirit bagi kita saat ini,” kata dia.

Kehadiran masjid itu diyakini Husni telah menjadi cara untuk syiar agama Islam, sehingga dapat berkembang secara baik di daerah kekuasaan Kesultanan Siak.

Untuk menjadi Imam pada masa itu, persyaratannya cukup berat, yakni lulus tes oleh Qadi Siak di zaman Sultan pada masa itu. Kepengurusan Masjid Syahabuddin dikoordinir oleh Sultan Siak.

Baca juga: Masjid Jamik Koto Pangean Kuansing, Mimbar Berusia Ratusan Tahun Masih Digunakan

Baca juga: 5 Masjid di Indonesia dengan Arsitektur Tionghoa

“Maka yang menjadi imam dan khatib digaji oleh Sultan Siak. Di antara mereka yang berperan adalah H Abdul Wahid, Tuan Lebay Abdul Muthalib dan Imam Suhel,” kata Husni.

Menurut Husni, pada sejarahnya ada yang lebih unik pada saat pembangunannya. Untuk menegakkan pondasi masjid perlu penimbunan terlebih dahulu. Penimbunan tanah untuk pindasi masjid ini dilakukan oleh kaum ibu secara bergotong royong, pada malam hari.

“Padahal pada masa itu masih berlaku adat pingitan bagi kaum perempuan,” kata dia.

Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, seluruh aset Kerajaan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, sehingga masjid tersebut dijadikan Masjid Kecamatan. Dengan adanya pemekaran wilayah di Propinsi Riau, Siak menjadi Kabupaten, maka masjid itupun naik status menjadi Masjid Kabupaten. Selain itu Masjid Syahabuddin ini juga menjadi Masjid bersejarah dan masuk ke dalam situs cagar budaya.

“Dari banyak situs cagar budaya masjid Syahabuddin ini adalah salah satu yang terpenting,” kata Husni.

Baca juga: Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu atau Rohul

Baca juga: Melihat Kemegahan Masjid Raya An Nur di Pekanbaru


--
(tribunpekanbaruWIKI.com/Mayonal Putra)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved