Mimbar Masjid Syahabuddin di Siak Riau ini Sudah Berusia 300 Tahun

Mimbar Masjid Syahabuddin di Siak Riau ini Sudah Berusia 300 Tahun, di bagian kubah mimbar terdapat angka bertulisan Arab 1178 masehi

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaruwiki.com
Penampakan mimbar dan mihrab masjid Syahabuddin, Siak Sri Indrapura. 

Kendati demikian, kata Muzani lebih jauh, hal itu bukan karena kaki sultan yang masuk ke air yang menyebabkan ikan itu bermunculan namun lebih kepada doa dari Sultan Syarif Kasim II.

" Jadi bukan karena kakinya, tapi kekuatan doa dari Sultan waktu itu. Karena sultan benar-benar orang yang taat beragama," kata dia.

Kini, masjid Syahabuddin menjadi destinasi wisata religi dan sejarah di Siak. Selain mempunyai nilai sejarah yang tinggi dalam khazanah kerajaan Melayu, bangunan masjid ini juga terbilang unik. Bangunan masjid tampak mungil namun terkesan mewah sebagai masjid kerajaan pada masanya. Unik namun mempunyai sentuhan khas Melayu Riau.

Ketua Pengurus Masjid Syahabuddin, Husni Merza, masjid Syahabuddin yang pertama terletak di Jalan Syarif Kasim. Masjid itu dibangun pada 1882 silam, pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim I.

“Bangunan masjid Syahabuddin kala itu sangat sederhana, bahan bangunannya juga terbuat dari kayu. Jadi masjid Syahabuddin yang ada sekarang itu dibangun pada masa Sultan Syarif Kasim II,” kata Husni Merza.

Baca juga: Masjid Syahabuddin di Siak, Masjid Peninggalan Sultan Syarif Kasim II

Masjid Syahabuddin
Masjid Syahabuddin (tribunpekanbaruwiki.com)

Pada pemerintahan Sultan Syarif Kasim II, yakni 1926 barulah masjid Syahabuddin dipindahkan ke tempat yang sekarang. Masjid ini sudah dibangun permanen, terletak di Jalan Sultan Ismail, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak.

“Dari berbagai literatur, arsitektur bangunan masjid merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, Turki dan Melayu,” kata dia.

Masjid ini berdenah persegi silang, dengan luas bangunan hanya 399.6 m2. Pintu masuk berada di sisi Timur, Utara, dan Selatan bangunan. Bangunan utama ditopang tiang bulat silinder dari beton dengan formasi membentuk lingkaran. Pintu dan jendela bagian atas membentuk lengkung kubah. Lengkung kubah di atas pintu dan jendela pada bagian dalam berhiaskan kaligrafi ayat -ayat Alquran berbahan kuningan.

Atap masjid berupa atap sirap yang pada bagian puncaknya berbentuk "kuncup teratai". Sementara mihrabnya berukuran tinggi 2,4 m, lebar 104 cm, dan panjang 210 cm. Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari kayu bermotif daun, sulur dan bunga.

“Masjid Syahabuddin ini adalah masjid kebanggaan kita masyarakat Siak, sampai saat ini masjid masih terpelihara dengan sangat baik, pengelolaannya saat ini sama dengan masjid pada umumnya yakni ada pengurus,” kata Husni Merza.

Bangunan masjid ini telah mengalami perbaikan beberapa kali namun masih tetap mempertahankan bentuk aslinya. Masjid ini telah menjadi saksi sejarah hadirnya Kerajaan Melayu Islam di Siak Sri Indrapura, Propinsi Riau. Masjid ini dibangun pada 1926 M pada masa Sultan Al Said Al Kasyim Abdul Jalil Saifuddin, (Sultan Syarif Kasim II), merupakan Raja Kerajaan Siak yang terakhir. Nama Syahabuddin berasal dari gabungan kata syah dan al-din. Kata syah berasal dari bahasa Persia yang berarti penguasa, sedangkan kata al-din berasal dari bahasa Arab yang berarti agama.

“Mungkin penamaan Masjid Syahabuddin dimaksudkan sebagai lambang bahwa Sultan/Raja bukan hanya penguasa negara, melainkan juga sekaligus seorang penguasa agama (Syahabuddin),” kata Husni Merza.

Bangunannya pernah beberapa kali mengalami perbaikan dan penambahan bangunan baru di kanan dan di kiri masjid.

“Dalam sejarahnya, pembangunan masjid ini dari anggarkan dari khas kesultanan, serta partisipasi berupa infak dan sedekah dari masyarakat, bantuan masyarakat ini dianggap dalam hal penyelenggaraan kegiatan dakwah,” kata dia.

Setelah masjid didirikan, maka Sultan Siak langsung mengangkat Takmir atau pengelola/pengurus masjid. Pada zaman itu masjid sudah dikelola dengan manajemen yang modern.

“Berarti masjid Syahabuddin ini telah mencontohkan pengelolaan yang benar dan modern sejak zaman kesultanan. Ini menjadi spirit bagi kita saat ini,” kata dia.

Kehadiran masjid itu diyakini Husni telah menjadi cara untuk syiar agama Islam, sehingga dapat berkembang secara baik di daerah kekuasaan Kesultanan Siak.

Untuk menjadi Imam pada masa itu, persyaratannya cukup berat, yakni lulus tes oleh Qadi Siak di zaman Sultan pada masa itu. Kepengurusan Masjid Syahabuddin dikoordinir oleh Sultan Siak.

Baca juga: Masjid Jamik Koto Pangean Kuansing, Mimbar Berusia Ratusan Tahun Masih Digunakan

Baca juga: 5 Masjid di Indonesia dengan Arsitektur Tionghoa

“Maka yang menjadi imam dan khatib digaji oleh Sultan Siak. Di antara mereka yang berperan adalah H Abdul Wahid, Tuan Lebay Abdul Muthalib dan Imam Suhel,” kata Husni.

Menurut Husni, pada sejarahnya ada yang lebih unik pada saat pembangunannya. Untuk menegakkan pondasi masjid perlu penimbunan terlebih dahulu. Penimbunan tanah untuk pindasi masjid ini dilakukan oleh kaum ibu secara bergotong royong, pada malam hari.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1252 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved