Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Desa Lubuk Kembang Bungo Pelalawan Riau

Seekor Gajah Sumatra ditemukan mati di kebun karet di Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Penulis: Aan Ramdani
Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Tim medis Balai Besar KSDA Riau melakukan nekropsi dan pemeriksaan secara patologi terhadap bangkai Gajah Sumatra di Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. 

Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Desa Lubuk Kembang Bungo Pelalawan Riau


TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM- Seekor Gajah Sumatra ditemukan mati di kebun karet di Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Gajah Sumatra berjenis kelamin betina ini pertama kali ditemukan 24 Mei 2021 lalu. Namun kemudian sejumlah foto kematian sawta dilindungi ini viral dan beredar di grup-grup whatsapp, Rabu (16/6/2021).

Karena foto tersebut viral akhirnya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau langsung mengelurakan rilis terkait kematian Gajah Sumatra ini.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono membenarkan prihal kematian Gajah Sumatra tersebut. Kematian Gajah Sumatra tersebut pertama kali diketahui oleh karyawan Baserah Central Nursery (BCN) PT. RAPP.

" Tanggal 24 Mei 2021, pukul 11.45 WIB, berdasarkan informasi dari petugas BCN (Baserah Central Nursery) ditemukan Gajah dalam keadaan mati di kebun karet yang berdekatan dengan areal perumahan karyawan BCN," jelas Suharyono dalam rilisnya yang ditermia tribunpekanbaruWIKI.com, Rabu (16/6/2021).

Baca juga: Hijaunya Suaka Margasatwa Rimbang Baling

Baca juga: 10 Suaka Margasatwa di Riau

Kemudian berdasarkan temuan tersebut, Environment Officer PT RAPP kemudian langsung melakukan pengecekan ke TKP untuk melihat kondisi Gajah dan melakukan pengamanan di lokasi kejadian. Selanjutnya informasi kemudian diteruskan kepada Conservation Head yang langsung berkoordinasi dengan tim Balai Besar KSDA Riau.

Pada hari yang sama, tim Balai Besar KSDA Riau dengan didampingi oleh tim RAPP melakukan olah TKP dan nekropsi terhadap bangkai Gajah.

"Dari hasil nekropsi dan pemeriksaan secara patologi yang dilakukan oleh tim medis Balai Besar KSDA Riau, diduga penyebab kematian Gajah betina yang berusia sekitar 45 tahun tersebut adalah gangguan pada organ hati (hepar) dan sistem pernapasan,"jelasnya.

Sedangkan sampel darah Gajah Sumatra tersebut sedang dalam proses analisa di laboratorium di Bogor dan masih menunggu hasil.

Sebelum itu, Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono menjelaskan Gajah Sumatra yang mati ini tidak luput dari pantauan pihaknya.

Hal tersebut berawal pada tanggal 13 Desember 2020 sampai dengan 18 Desember 2020, terdapat sekelompok Gajah yang masuk dan beraktivitas di seputaran Baserah Central Nursery (BCN).

Gajah berjumlah 17 ekor, terdiri dari 8 ekor Gajah jantan dewasa, 6 ekor Gajah betina, dan 3 ekor Gajah anakan. Pada saat rombongan Gajah tersebut keluar dari lokasi BCN, tertinggal 1 ekor Gajah yang tetap beraktivitas di seputaran BCN dan kebun masyarakat di sekitarnya.

Menurut perkiraan kondisinya sudah tua dan berusia sekitar 50 tahun.

Baca juga: Akan Dibangun Sarana Olahraga Arung Jeram di Kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling

Baca juga: Gajah Sumatra Jinak di Taman Nasional Tesso Nilo Lahirkan Bayi Jantan

Terhadap 1 ekor Gajah Sumatra yang tertinggal tersebut dilakukan patroli oleh tim dari Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Yayasan TNTN, dan RAPP untuk mengidentifikasi keberadaan dan kondisi Gajah Sumatra dimaksud.

Namun, Gajah tidak ditemukan. Tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak mengganggu Gajah dan berkoordinasi dengan instansi terkait jika terjadi konflik.

"Pada tanggal 26 Februari 2021, Gajah tersebut kembali muncul di areal BCN. Pada tangga 6 Maret 2021, rombongan Gajah yang sama kembali ke areal BCN dan berada di seputaran BCN, riparian estate, dan kebun masyarakat sampai dengan tanggal 20 Maret 2021," katanya.


Lanjutnya, Pada tanggal 21 Maret, kegiatan penggiringan terhadap kelompok Gajah tersebut dilakukan agar menjauh dari kebun masyarakat dan areal BCN.

Gajah Sumatra berhasil digiring keluar dan berada di Estate Baserah tetapi Gajah tua tersebut tertinggal dari rombongannya dan tetap berada di areal BCN.

Pada tanggal 4 April 2021, berdasarkan informasi dari masyarakat Teratak Baru, Gajah 1 ekor yang terpisah sebelumnya dijumpai di dalam kebun masyarakat di Teratak Baru. Berdasarkan hasil pengamatan tim YTNTN, Gajah tersebut teridentifikasi dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat mengikuti rombongannya.

Baca juga: Nikati Keindahan Alam di Wisata Batu Gajah Rohul

Baca juga: Cegah Konflik Gajah Sumatra dengan Manusia, BKSDA Riau Pasang GPS Collar

Tanggal 8 April 2021, Gajah tersebut digiring keluar oleh masyarakat Teratak Baru menuju lahan bekas HTR Desa Sikijang dengan menggunakan meriam spiritus.

"Kemudian Pada tanggal 22 April 2021, Gajah tersebut ditemukan oleh tim patroli Estate Baserah di seputaran areal HTR Teratak Baru yang berdekatan dengan kebun masyarakat. Gajah tersebut kemudian bergerak menjauh dari kebun masyarakat," lanjutnya.

Pada tanggal 24 April 2021, berdasarkan informasi dari anggota Balai Taman Nasional Tesso Nilo bernama Popon, Gajah tersebut dijumpai di kebun masyarakat Desa Gunung Melintang.

Sejak tanggal tersebut sampai dengan 4 Mei 2021, tidak dijumpai keberadaan Gajah tersebut, tetapi diperkirakan masih berada di seputaran sempadan Sungai Nilo.

Tanggal 5 Mei 2021 pada pukul 18.05, Gajah kembali dijumpai memasuki kawasan sendimen pond BCN. Gajah berhasil digiring masuk kembali ke dalam hutan oleh karyawan BCN.

Terakhir sebelum ditemukan mati pada 24 Mei 2021, tanggal 22 Mei 2021, Gajah tersebut kembali dijumpai di seputaran sempadan Sungai Nilo.

Baca juga: Seekor Anak Gajah Lucu Lahir di Pusat Latihan Gajah Minas Riau, Diberi Nama Rizky

Baca juga: Balai Besar KSDA Riau dan Pemkan Inhil Lepas Liarkan 2 Ekor Elang

--
(tribunpekanbaruWIKI.com/ aan ramdani)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved