Wisata Mangrove Jembatan Pelangi di Kepulauan Meranti

Wisata Mangrove Jembatan Pelangi terletak di Desa Banglas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Suasana sejuk Wisata Mangrove Jembatan Pelangi terletak di Desa Banglas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. 

Wisata Mangrove Jembatan Pelangi di Kepulauan Meranti

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM- Wisata Mangrove Jembatan Pelangi terletak di Desa Banglas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Wisata Mangrove Jembatan Pelangi ini salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Meranti, bahkan naik podium menjadi juara tiga dalam ajang Anugrah Pesona Indonesia kategori Ekowisata.

di Lokasi Wisata Mangrove Jembatan Pelangi ini pengunjung bisa mendapatkan informasi berbagai jenis tanaman mangrove.

Objek wisata hutan mangrove yang berada di Dusun II Desa Banglas Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti sebelumnya telah diresmikan langsung oleh Bupati Kepulauan Meranti dan ketua DPRD Riau pada akhir tahun 2019 yang lalu,

Objek wisata ini menjadi istimewa karena menghadirkan suasana alam yang asri dari hutan bakau yang dekat dengan wilayah perkotaan Selatpanjang ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti.


Di dalam tempat wisata ini para pengunjung disuguhkan pemandangan asri dengan berjalan menyusuri hutan bakau. Objek wisata ini juga menawarkan view menarik untuk selfi dan menawarkan pemandangan panorama laut dan hijaunya hutan mangrove.


Rudi warga Selatpanjang yang sempat berkunjung mengatakan senang dengan adanya tempat Eco wisata tersebut. Mengingat bahwa jarak dari daerah selatpanjang ke tempat tersebut juga tidak jauh.

Baca juga: Daftar Sembilan Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti

Baca juga: Banjir Rob di Kepualauan Meranti Riau Jadi Tempat Wisata


"Kita bersyukur ada tempat wisata ini, apalagi jaraknya tidak jauh dari kota Selatpanjang, bagi yang ingin menikmati suasana alam jadi tak perlu jauh lagi," ujar Rudi.


Dirinya mengatakan bahwa waktu tempuhnya dari jarak Selatpanjang ke lokasi hanya memakan waktu 15 menit. Dirinya bersyukur tempat wisata alam ini ada karena terbatasnya wisata alam di kota Sagu tersebut.

"Semoga tempat wisata seperti ini bisa terus bertambah, apalagi yang dekat dengan suasana kota, sehingga yang mau refreshing suasana alam tidak perlu jauh-jauh." Pungkasnya.


Kepala Desa Banglas Samsurizal Sebelumnya mengatakan bahwa tercetusnya destinasi wisata mengrove ini ketika dia bersama kepala desa lainnya di Kepulauan Meranti melakukan studi banding ke Desa Ponggok, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

 

"Ide awal tercetusnya ide destinasi wisata mangrove ini ketika saya bersama kepala desa lainnya melakukan studi banding ke Desa Ponggok. Kami yakin dan percaya jika ada kemauan pasti ini bisa berhasil," ungkap Samsurizal.


Dikatakan, pembangunan jembatan sepanjang 300 meter itu dianggarkan melalui anggaran dana desa sebesar Rp381 juta lebih.


Dirinya mengatakan bahwa jika selama ini hutan bakau tersebut hanya dikelola dengan cara ditebang untuk dijual kepada masyarakat. "Hutan bakau tersebut adalah milik masyarakat dan selama ini hanya ditebang, sehingga kita coba cari terobosan baru dengan menjadikannya sebagai objek Eko Wisata," ujar Samsurizal.

Baca juga: Tasik Anak Penyagun, Potensi Wisata Baru di Kepulauan Meranti Riau


Hal itu kemudian mendapat respon baik dari masyarakat dan pemilik lahan kawasan tersebut. "Pemilik juga dengan senang hati menghibahkannya tanpa ganti rugi," ungkapnya.


Untuk pembangunannya, pihak desa memberdayakan masyarakat yang bekerja sebagai tukang.


Bahkan pengelolaannya akan dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan diawasi oleh BUMDes.

 

"Dalam pengerjaannya, kita melibatkan masyarakat dan untuk pengelolaannya akan di kelola oleh Pokdarwis Destinasi Banglas dengan biaya masuk itu nantinya Rp3000 perorang dan sambil berjalan kita menyiapkan berbagai panganan dan kuliner disini. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah mendukung ini semua," kata Samsurizal.


Samsurizal mengatakan bahwa Eko Wisata mangrove ini diberi nama Eko Wisata Pelangi. Hal ini diartikan karena jembatan yang dibuat sedemikian rupa dengan perpaduan berbagai warna.

"Awalnya karena jembatan yang kita bangun ini memang dibuat warna-warni, sehingga sebelum diresmikan masyarakat sering membuat namanya menjadi pelangi," tutur Samsurizal.

Dirinya mengatakan untuk tahap awal untuk retribusi dan pengelolaanya nanti akan dibuatkan melalui Peraturan Desa. Dimana nantinya pengelolaanya akan secara swakelola oleh masyarakat desa tersebut.

"Sehingga ini juga akan membangun perekonomian masyarakat, selain itu peluang kerja bagi masyarakat dan pemuda menjadi lebih terbuka," ujarnya.

Sebelum dibuka dikatakan Samsurizal antusias masyarakat untuk berkunjung ke tempat ini juga cukup besar.

"Bila dirata-ratakan kunjungan setiap hari itu ada seratus orang, apalagi saat hari libur itu tidak akan kurang dari seratus orang," ungkapnya.

Walaupun demikian Samsurizal menargetkan seiring berjalannya waktu, pihaknya akan terus membenahi tempat wisata tersebut agar lebih memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

"Kita akan buatkan tempat istirahatnya, tempat sholat, kita tambah penerangan dan rencana kita akan buat pustaka di sana." Pungkas Samsurizal.

Baca juga: Gasing, Permainan Rakyat di Meranti Riau yang Masih Eksis

Baca juga: Asyik Kulineran Malam, Ratusan Orang di Pekanbaru Langsung Dirapid Test Antigen

 

--
( tribunpekanbaruwiki.com/teddy tarigan)

Ikuti kami di
KOMENTAR
1117 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved