Festival Lampu Colok, Tradisi Gotong Royong dan Jaga Kekompakan Pemuda Desa di Bengkalis

Festival Lampu Colok merupakan salah satu Tradisi Gotong Royong dan jaga kekompakan yang dilakukan Pemuda Desa di Bengkalis Riau

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaruwiki.com
Menara Lampu Colok Desa Simpang Ayam Kabupaten Bengkalis saat Festival Lampu Colok 2021 

Festival Lampu Colok, Tradisi Gotong Royong dan Jaga Kekompakan Pemuda Desa di Bengkalis

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM- Festival Lampu Colok di Bengkalis menjadi tradisi bagi masyarakat Bengkalis setiap malam 27 Ramadan atau sering disebut malam tujuh likur oleh masyarakat setempat. Setiap desa hampir memiliki menara colok sebagai gengsi tersendiri.

Untuk membuat menara lampu colok tentu bukanlah perkara mudah jika dikerjakan sendirian, perlu kerja sama dan gotong royong, bahu membahu supaya hasil menara bisa tampil maksimal.

Tradisi gotong royong dan menjaga kekompakan, itulah yang tergambar jika perayaan Festival Lampu Colok ini diselenggarakan.

Warga Desa, terutama para pemuda begitu bersemangat untuk menghasilkan lampu colok.

Desa Simpang Ayam salah satu Desa yang hampir setiap tahun menjadi juara. Para pemuda membuat sebuah menara colok yang indah mengambarkan miniatur masjid tiga dimensi yang indah.


Muhammad Badowi Ketua Colok Desa Simpang Ayam kepada tribunpekanbaruwiki.com, Senin (10/5/2020) petang menceritakan, kekompakan dan gotong royong menjadi salah satu kunci yang membuat Festival Lampu Colok ini bisa sukses dengan hasil karya yang baik pula.

Baca juga: VIDEO: Suasana Haru Pelepasan Jenazah Ustadz Tengku Zulkarnain di Pekanbaru

Baca juga: Galopuong Ondam, Makanan Khas Kampar Riau

Menurut Muhammad Badowi tahun ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya, dimana persiapan menara colok yang dibangun mereka lebih lambat dari biasanya. "Kalau tahun tahun sebelumnya kami mempersiapkan Colok dari sebelum puasa, pemuda pemuda di sini sudah mencari kayu untuk mempersiapkan menara colok . Namun tahun ini kita baru di Ramadan ke delapan mencari kayu," ungkap Muhammad Badowi.

Bukan tanpa alasan persiapan tersebut baru dilakukan dihari kedelapan Ramadhan. Menurut Muhammad Badawi, awalnya pihaknya tidak menyangka tahun inu festival lampu colok akan digelar. Karena tahun sebelumnya menimbang kondisi pandemi Covid 19 festival ini ditiadakan.

"Kemarin saat awal puasa kita dapat kabar dari Disbudparpora Bengkalis kalau akan melaksanakan festival colok kembali dan kita diminta jadi tuan rumah pembukaannya," cerita Badowi.

Dari informasi inilah kemudian pihaknya menyampaikan kepada pemuda setempat dan masyarakat untuk menyiapkan menara colok. Biasanya Desa Simpang Ayam setiap festival lampu colok ini ikut sebanyak empat menara dari empat kelompok.

"Namun tahun ini karena mendadak, empat kelompok bergabung menyiapkan menara colok untuk Desa Simpang Ayam," terangnya.

Baca juga: Tradisi Ziarah Ke Makam Sultan Syarif Khasim II dan Keluarga

Baca juga: Tradisi Mandai Ulutaon di Rokan Hulu Riau

Setidaknya lebih dari lima puluhan orang pemuda dan masyarakat yang mendirikan menara colok ini. Semua bekerja mulai dari mencari dana dari rumah ke rumah dan donatur, mencari kayu kebutuhan menara hingga membuat lampu colok yang akan di pasang.

"Kita mulai membuatnya dari mencari kayu sejak tanggal 8 Ramadan dan sebelum malam 27 Ramadan semuanya selesai terpasang menara colok setinggi lima belas meter dan lebar 25 meter ini," terang Badowi.

Untuk ketersedian kayu menara disediakan dengan gotong royong, pihaknya membeli dari tukang olah kayu kemudian bersama sama pemuda dibawa ke tempat menara akan dirikan. Kemudian membangun menara juga secara gotong royong setiap hari," tambahnya.


Siapkan 6000 Lampu Colok


Untuk membuat menara dimulai setiap habis solat Ashar sampai menjelang magrib. Setelah Isya dan tarawih kembali dilanjutkan pekerjaannya bersama sama pemuda di sini hingga jam 12 malam.

Setelah menara selesai, sebagian pemuda juga membuat lampu colok yang akan dipasangkan. Ada sebanyak 6.000 lampu colok yang disiapkan agar bisa menghasilkan gambar miniatur menarik ini.

"Jadi semua gotong royong dikerjakannya. Begitu juga minyak untuk menyalakan coloknya sumbangan masyarakat di sini dan donatur," terangnya.

Menurut dia, lampu colok dinyalakan sejak malam 27 Ramadan setiap pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Dengan menghabiskan bahan bakar sebanyak 1 drum dalam semalam.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved