Masjid Sabilillah di Desa Pedekik Bengkalis Riau, Pernah Dikabar Belanda

Masjid Sabilillah di Jalan K.H Rasyid Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau pernah dibakar militer Belanda

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com/Muhammad Natsir
Masjid Sabillilah di Desa Pedekik Bengkalis Riau 2021 

Masjid Sabilillah di Desa Pedekik Bengkalis Riau, Pernah Dikabar Belanda

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Masjid Sabilillah yang berlokasi di Jalan K.H Rasyid Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau memiliki cerita sejarah yang memilukan.

Masjid Sabilillah tersebut merupakan saksi bisu penyerangan tentara Belanda di Bengkalis saat Agresi Militer II 1949 lalu.

Bangunan Masjid Sabilillah ini bahkan pernah dibakar dan rata dengan tanah.

Dulunya Masjid Sabilillah ini memiliki nama Masjid Pedekik dan terbuat dari kayu. Masjid tersebut dibangun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tahun 1937.

H Anwar Wakil Ketua Pengurus Masjid Sabillilah kepada tribunpekanbaruwiki.com menceritakan, bangunan Masjid Sabillilah ini sudah empat kali dibangun sejak awal berdiri hingga saat ini ditahun 2021.

Kemudian setelah rata dengan tanah karena dibakar Belanda pada tahun 1949, masyarakat Desa Pedekik pun kembali membangun masjid tersebut.

Baca juga: Masjid Syahabuddin di Siak, Masjid Peninggalan Sultan Syarif Kasim II

Baca juga: Mesjid Hibbah di Pelalawan Riau, Masjid Bersejarah Berusia 86 Tahun

Kemudian Masjid Sabilillah ini kembali diperbaharui pada tahun 1979 dengan bangunan semi permanen.Meskipun masih dengan bangunan semi permanen bangunan ketiga ini diperluas dari sebelumnya.

"Barulah tahun 2011 lalu kembali dibangun dengan bangunan permanen. Saat ini masih berjalan pembangunannya," terang Anwar kepada tribunpekanbaruwiki.com

Nama masjid ini juga sudah berubah dari nama sebelumnya hanya masjid Pedekik menjadi masjid Sabilillah. Nama Sabilillah disematkan karena saat terjadi agresi militer Belanda tahun 1949 masjid ini menjadi markas pasukan fi sabilillah yang berhadapan dengan tentara Belanda.


Kini Masjid Sabilillah ini berwarna putih berkubah hijau serta dihiasi ornamen kuning emas tampak megah berdiri di jalan K.H Rasyid Desa Pedekik Kecamatan Bengkalis. Kemegahan ini semakin terasa saat berada didalam masjid dengan suasana nyaman.

Masjid ini memiliki dua lantai digunakan untuk tempat beribadah. Bagunan lantai dua ditopang dengan empat tiang utama penyanggah.

Tiang penyanggah terbuat dari beton dengan lapisan kayu dibagian bawahnya menambah keindahan masjid. Sementara Plafon masjid terbuat dari kayu dengan warna alami kecoklatan menghiasi masjid menambah kenyamanan mata memandang.

Bagian dalam memiliki luas sekitar 15 x 15 meter, dengan tujuh pintu termasuk pintu utamanya di bagian tengah. Serta antar pintunya dipenuhi jendela menembus cahaya masuk kedalam ruangan.

Baca juga: Masjid Jamik Koto Pangean Kuansing, Mimbar Berusia Ratusan Tahun Masih Digunakan

Baca juga: 5 Masjid di Indonesia dengan Arsitektur Tionghoa


Pasukan Subrantas Hadapi Tentara Belanda

Dalam kesempatan tersebut H Anwar juga menceritakan seperti apa gambaran para pejuang menghadapi tentara Belanda pada Agresi militer II di Bengkalis terjadi pada Januari 1949 lalu. Saat itu tentara Belanda memasuki Bengkalis melalui Selat Bengkalis dan turun di daerah Sungai Arang Parit Bangkong Bengkalis.

Pasukan Belanda menyerang tentara Indonesia yang ada di Bengkalis saat itu bermarkas di Desa Pedekik. Tentara Indonesia pada perang tersebut dipimpin oleh Subrantas.

"Masyarakat Bengkalis membantu tentara Indonesia untuk mengusir Belanda yang saat itu mencoba merebut kemerdekaan. Masyarakat yang turun langsung waktu itu menamakan diri sebagai Laskar Fi Sabilillah yang merupakan gabungan masyarkat Bengkalis dari beberapa desa," terang Anwar.

Laskar Fi Sabilillah ini bermarkas di masjid Pedekik dipimpin oleh Kyai Sudirman berasal dari Malaysia. Dengan bantuan Laskar Fi Sabilillah ini pasukan Belanda berhasil mundur malam itu waktu menyerang Desa Pedekik.

"Belanda menyerang pada malam hari, setelah berperang secara sengit akhirnya menjelang pagu Belanda memilih mundur kembali ke daerah Parit Bangkong, karena saat penyerangan dilakukan dua pasukan Belanda terbunuh, oleh Laskar Fi Sabilillah," kata Anwar.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved