Melihat Ekosistem Mangrove di Riau

Ekosistem gambut di Provinsi Riau cukup memprihatinkan, Riaumenjadi salah satu area target rehabilitasi Mangrove

Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Kepala BRGM RI, Hartono Prawiraatmadja (paling kiri) saat ikut menaman mangrove di daerah Kelurahan Basilam Baru, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Sabtu 24 April 2021 

Melihat Ekosistem Mangrove di Riau

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Ekosistem gambut di Provinsi Riau cukup memprihatinkan, padahal mangrove tidak saja bisa dijadikan objek wisata namun memiliki fuksi menjaga gambut dan juga menyerap dan menyimpan karbon.

Bahkan ekosistem mangrove yang asri dan terjaga, disebut mampu menyimpan karbon lebih besar dari hutan tropis daratan.

Ekosistem Mangrove di Riau saat ini sangat membutuhkan perhatian.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) RI, memandang perlu untuk melakukan penyelamatan mangrove melalui program rehabilitasi.

Pasalnya, ada sekitar 600 ribu hektare mangrove kritis di Indonesia. Jika menilik kondisi Mangrove di Riau, ternyata juga tak kalah memprihatinkan.

Provinsi Riau sendiri menjadi salah satu area target rehabilitasi Mangrove yang dilakukan BRGM, dengan luas area 155.540 hektare.

Maka dari itu, BRGM berusaha mendorong dan memotivasi masyarakat yang sudah memiliki kepedulian, untuk turut bekerjasama dalam upaya melestarikan mangrove.

Baca juga: Santan NU Tanam 10 Ribu Mangrove dan Tebar 100 Ribu Benih Ikan di Bandar Bakau Dumai

Ini juga menjadi bagian dari upaya menyelamatkan daratan yang seiring berjalannya waktu, semakin terkikis akibat dampak abrasi air laut.

Apalagi, di Bumi Lancang Kuning mangrove menjadi tanaman yang berasosiasi dengan tanaman gambut.

Kepala BRGM RI, Hartono Prawiraatmadja menuturkan, ekosistem gambut dan mangrove, di beberapa daerah menjadi hal yang tak dapat dipisahkan. Salah satunya yakni di Riau.

"Ekosistem mangrove merupakan benteng bagi ekosistem gambut yang secara fisik memang gampang terurai ketika terpapar oleh ombak (laut)," jelas dia, saat meninjau kondisi mangrove di Kelurahan Basilam Baru, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Sabtu (25/4/2021).

Di Riau dan Kepulauan Riau, serta secara umum di sepanjang pantai timur Sumatera disebutkan Hartono, keberadaan mangrove menjadi penting.

Hal ini dikarenakan sebagian besar ekosistem gambut memerlukan kehadiran mangrove sebagai pelindung.

Disinggung soal kaitannya dengan emisi karbon, istilah ini dibeberkan Hartono, juga sering digunakan untuk ekosistem lahan basah.

Termasuk mangrove dan gambut, serta adanya danau air tawar yang jauh dari pesisir pantai.

Baca juga: Ekowisata Mangrove di Desa Pangkalan Jambi Bengkalis

"Ekosistem mangrove itu pada kondisi klimaksnya, mampu menyimpan karbon 4 kali lebih banyak dari hutan tropis. Jadi bisa dibayangkan. Ekosistem hutan tropis yang sangat kita banggakan, dalam hal keanekaragaman hayati, tapi dari sisi penyimpanan karbon, itu lebih rendah dari mangrove," urainya.

"Sehingga mangrove menjadi ekosistem yang penting untuk kita lestarikan dan selamatkan," sambung dia.

Hartono menuturkan, Provinsi Riau pada dasarnya memiliki luasan gambut dan mangrove yang termasuk besar di Indonesia. Disamping Papua dan Kalimantan Barat.

"Maka keberhasilan kita untuk mengelola gambut dan mangrove secara berkelanjutan itu menjadi penting. Terutama ketika Indonesia sudah berkomitmen untuk menurunkan laju emisi (karbon) 29 persen di Konvensi Perubahan Iklim," ungkap dia.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved