Gasing, Permainan Rakyat di Meranti Riau yang Masih Eksis

Gasing merupakan permaian rakyat atau permainan tradisional yang masih eskis di Provinsi Riau, diantaranya di Pulau Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti

Penulis: Aan Ramdani
Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Gasing merupakan permaian rakyat yang masih eksis di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau 

Gasing, Permainan Rakyat di Daerah Melayu Riau yang Masih Eksis

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Gasing, mendengar nama ini tentulah tidak asing. Gasing merupakan salah satu permainan rakyat atau permainan tradisional.

di Wilayah Prvinsi Riau permainan Gasing merupakan permainan Rakyat yang kerap dimainkan oleh masyarakat melayu.

Meskipun faktanya, saat ini permainan rakyat ini sudah mulai ditinggalkan seiring dengan kemajuan teknologi. Dimana kebanyakan orang kini bermain memnggunakan hand phone pintar, sehingga permaianan tradisional yang merupakan peninggalan budaya leluluhur mulai tergerus.

Kendati demikian Permaian Gasing masih bisa ditemukan ditengah-tengah kehidupan masyarakat Melayu Riau.

Aktivitas bermain Gasing ini bisa kita lihat di daerah pesisir Riau yakni di daerah Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Salah seorang pemuda di Desa Kuala Merbau, Kecamatan Pupauan Merbau Efrizal kepada tribunpekanbaruwiki.com Kamis (15/4/2021), mengatakan tidak hanya anak-anak dan pemuda, permainan gasing ini bahkan digemari juga oleh para orang dewasa.

Baca juga: Mengenal Rumah Godang Sentajo di Kenagarian Sentajo Kuansing Riau

Permainan Gasing yang dilakukan Azimat Melayu Pesisir di Kepulauan Meranti Riau
Permainan Gasing yang dilakukan Azimat Melayu Pesisir di Kepulauan Meranti Riau (Istimewa)

Bahkan di tengah pandemi dan memasuki puasa ini permainan ini semakin giat dilakukan di desanya.

"Permainan gasing ini masih terus kita lakukan, bahkan semakin naik daun. Mungkin faktornya karena pandemi. Walaupun kalau hujan dan tanah basah kita tidak bisa lakukan," ujarnya.

Bahkan di daerah ini terdapat grup-grup permainan Gasing. Efrizal yang juga tergabung dalam Klub Gasing Ampuan mengatakan gasing tidak hanya sekedar permainan melainkan tradisi maupun budaya turun-temurun dilakukan.

"Permainan ini merupakan tradisi leluhur kita yang telah turun-temurun dilakukan, dan kita sebagai generasi penerus sebenarnya berkewajiban untuk menjaganya," ungkapnya.

Dalam memainkan gasing Efrizal mengatakan ada 2 tim yang bertanding, dimana tiap tim ada yang berjumlah 6 orang dan 7 orang.

Ada dua jenis Gasing yang kerap dimainkan di daerah ini, salah satunya yaitu Gasing pemangkah atau penyerang, dimana gasing ini sendiri hanya terbuat dari kayu.

Untuk jenis lainnya yaitu Gasing penahan juga terbuat dari kayu hanya pada bagian pinggirnya dilapisi besi agar lebih kuat.

Keduanya dimainkan dengan menggunakan tali dan dilemparkan ke tanah.

Baca juga: Perjuangan Syaifullah Sebagai Nakhoda Ambulance Laut di Meranti Riau

"Jadi satu gasing pemangkah itu untuk menyerang gasing lawan, sedangkan gasing penahan untuk menahan serangangan dari tim lawan. Setiap yang kalah akan mendapatkan poin," tuturnya.

Permainan gasing juga dianggap sebagai solusi menjaga nilai budaya di tengah mulai lunturnya nilai kearifan lokal karena perkembangan teknologi.

"Jadi ini juga sebagai bagian untuk menjaga nilai kearifan lokal serta menjaga nilai tradisi kita masyarakat Melayu," ujarnya.

Permainan gasing juga dirasa sangat perlu untuk tetap menjaga silaturahmi antar daerah, karena kerap dilakukan di berbagai daerah dalam bentuk turnamen.

"Kita masih sering melakukan pertandingan antar desa, bahkan kemari kita juga sempat bertanding dengan daerah Siak dan Bengkalis. Jadi selain nilai budaya, silaturhami kita juga tetap terjaga karena permainan ini merupakan tradisi bersama kita," ujarnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved