Tradisi Mandai Ulutaon di Rokan Hulu Riau

Tradisi Mandai Ulutaon merupakan tradisi makan bersama ydi Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau

Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Suasana Pelaksanaan Tradisi Mandai Ulutaon di Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Rabu (7/4/2021) 

Tradisi Mandai Ulutaon di Rokan Hulu Riau

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Tradisi Mandai Ulutaon merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat suku Mandailing di Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Tradisi Mandai Ulutaon ini merupakan tradisi tahunan dan warisan trun temurun, yang dilaksanakan setiap hari Rabu bulan ke empat setiap tahunya dan tidak bisa dilaksanakan pada hari lainnya.

Sejarah Tradisi Mandai Ulutaon ini tidak terlepas dari jejak perjalanan Raja Mandailing Perempuan, Boru Namora Suri Andung Jati di Bagas Rarangan Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kabupaten Rokan Hulu.

Kini, Tradisi Mandai Ulutaon ini masih terus dilestarikan dan dilakukan ditengah-tengah kemajuan teknologi dizaman modern saat ini.

Tradisi Mandai Ulutaon ini merupakan bentuk rasa syukur atas panen masyarakat, kini sekaligus mengenang jejak Raja Mandailing Perempuan, Boru Namora Suri Andung Jati.

Tradisi Mandai Ulutaon ini dikutip tribunpekanbaruwiki.com dari hasil penelitian mahasiswa UIN Suska Riau, Marlina dengan judul " Tradisi Mandai Ulutaon dalam kehidupan masyarakat suku Mandailing di Desa Khaiti Kecamatan Rambah Tengah Barat Kabupaten Rokan Hulu ditinjau dari Aqidah Silam", terdapat tiga tujuan dilaksanakannya Tradisi Mandai Ulutaon ini.

Pertama, maksud dari Tradisi Mandai Ulutaon ini untuk menjaga ketentraman di dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya, seperti mencegah datangnya bencana.

Kemudian poin kedua, Tradisi Mandai Ulutaon ini menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi antara ninik mamak.

Selanjutnya, Tradisi Mandai Ulutaon ini sebagai kegiatan untuk mengenang Boru Namora Suri Andung Djati,
yang telah berbuat baik, apabila masyarakat disekitarnya membutuhkan.

Baca juga: Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu atau Rohul

Tradisi Mandai Ulutaon di Rokan Hulu 2021

Pada tahun 2020 lalu pelaksanaan Tradisi Mandai Ulutaon ini sempat ditiadakan mengingat berada dimasa pandemi covid-19.

Kemudian tahun 2021, tepatnya pada Rabu 7 April 2021 Tradisi Mandai Ulutaon kembali dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Meski ditengah Pandemi, Pelaksanaan Mandai Ulutaon berlangsung khidmat.

Sejumlah pejabat di Kabupaten Rokan Hulu, Riau dan pejabat dari kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara hadir dalam pelaksanaan Tradisi Mandai Ulutaon ini.

Tampak juga dihadiri dalam kegiatan Tradisi Mandai Ulutaon Raja Luhak Rambah, Camat Rambah Arie Gunadi, Sutan Na Opat Mangaraja Na Tolu yakni perwakilan Sutan Laut Api, Sutan Tuah, Sutan Kumolo Bulan, Sutan Silindung. Kemudian Mangaraja Timbalan, Mangaraja Liang Sungai Pinang dan Mangaraja Timbalan.

Tamu undangan yang hadir dalam Tradisi Mandai Ulutaon ini disambut dengan pencak silat dan tor-tor kesenian Mandailing di Kawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rohul H. Syofwan S.Sos mewakili Bupati Kabupaten Rokan Hulu dalam kegiatan Tradisi Mandai Ulutaon tersebut menjelaskan,

Menurutnya kawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari nilai norma adat dan Budaya Rokan Hulu.

“Tradisi Mandai Ulu Taon ini merupakan acara turun temurun dilaksanakan setiap tahun, bahwa didalamnya terkandung nilai adat dan budaya. Bahwa kita memang beragam suku tapi tetap menjunjung semangat persatuan dan kegotongroyongan,” ujarnya

“Tradisi yang dilaksanakan hari ini juga memberi efek kepada generasi muda untuk mengembalikan nilai norma dan adat yang mulai terkikis zaman,” ujarnya

Ia juga berharap setiap acara Mandai Ulu Taon untuk mengikutsertakan anak-anak agar nilai adat dan budaya yang patut dilestarikan untuk memberikan efek kepada generasi yang akan datang.

Baca juga: Benteng Tujuh Lapis, Sejarah Perjuangan Tanku Tambusai di Dalu-Dalu Riau Hadapi Penjajah Belanda

Pemkab Rokul Dukung Pengembangan Infrastruktur di Kawasan Kawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati

Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Pemkab) dan DPRD Rohul medukung dan mengupayakan Pengembangan infrastruktur dikawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati, Huta Haiti III Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu.

Dengan harapan untuk memperbarui peninggalan sejarah dan tradisi adat Mandailing seperti mengingat perjuangan Raja Mandailing Perempuan Boru Namora Suri Andung Jati dan tradisi Mandai Ulu Taon sebagai edukasi bagi generasi muda yang perlu dilestarikan, agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi informasi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rohul H. Syofwan S.Sos mengatakan terkait Kondisi fisik dilokasi tersebut dari tahun ke tahun sudah ada peningkatan, terkait masih ada kekurangan, Pemkab dan DPRD Rohul akan berupaya membangun infrastruktur jalan dan kawasan di Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati.

“Kondisi secara fisik infrastruktur ada kekurangan, secara bertahap Pemkab berupaya melakukan perbaikan. Tentunya kita berkolaborasi dengan DPRD Rohul dan ditopang dengan beberapa dinas terkait untuk mendirikan suatu objek menjadi nilai budaya,” kata Syofwan

“Ada 11 OPD yang perlu ikut bersama dan berkolaborasi yang kita harapkan bisa tersokong dengan baik untuk membangun kawasan ini secara bersama,” tambahnya.

Senda dengan yang disampaikan Syofwan, Ketua DPRD Kabupaten Rokan Hulu Novliwanda Ade Putra, mengaku pelaksanaan Tradisi Mandai Ulutaon ini merupakan sebuah semangat untuk menjaga tradisi adat istiadat dan kebudayaan, yang dibagun oleh leluhur.

“Untuk terus mengingat jasa-jasa yang telah diperjuangkan, agar kemajuan teknologi ini tidak mengikis kebudayaan saat ini,” ujarnya

Lanjut Novliwanda, Infrastruktur menjadi salah satu indaikator untuk untuk melestarikan dan menjaga adat dan kebudayaan ini.

“Kira-kira satu tahun yang lalu sebelum pandemi, juga sudah diresmikan Bagas Rarangan ini bantuan dari Pemerintah Pusat, tentu ini menjadi langkah awal yang baik untuk dilanjutkan,” ujarnya.

Baca juga: Perjuangan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai

“Bahwa memang butuh perhatian untuk pembangunan lanjutannya, ini menjadi masukan bagi kami sebagai wakil rakyat di DPRD Rohul untuk menyampaikan kepada pemerintah, baik ditingkat Kabupaten, Provinsi maupun Pusat,” katanya

“Meski perekonomian sulit di masa pandemi ini, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan infrastruktur khususnya kebudayaan adat istiadat kita untuk diteruskan pembangunannya sehingga anak kemenakan kita kelak, akan bisa bercerita kepada penerusnya,” ujarnya

Kemudian, Sebelumnya Perwakilan dari Sutan Laut Api Jamaludin Nasution menjelaskan secara singkat perjalanan Boru Namora Suri Andung Jati yang sampai Kaiti tahun 1960.

“Singkat ceritanya Boru Namora Suri Andung Jati ini adalah seorang Putri Kayangan yang membawa rombongan dari Padang Garugur yang terdiri dari marga Nasution, Lubis, Daulay, Hasibuan, Kemudian Boru Namora Suri Andung Jati kembali ke alam Kayangan,” jelasnya singkat

Ia juga berharap kepada Pemkab Rohul untuk merenovasi Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati dan Makam Sutan Laut Api, pasalnya sejak 10 tahun terakhir hingga kini belum pernah direnovasi.

“Kemudian perlu juga dibangun atau direnovasi jejak terakhir Boru Namora Suri Andung Jati dan Makam Sutan Laut Api yang merupakan Opung Nasution. Jadi saya mewakili H. Abdul Malik Nasution Sutan Laut Api dari Napituhuta, pesan belian meminta kepada Pemkab dan DPRD Rohul untuk merenovasinya,” harapnya

Kemudian, Kepala Desa Rambah Tengah Barat Sofyan Daulay mengatakan kegiatan tradisi adat Mandai Ulu Taon ini merupakan acara tahunan dan warisan turun temurun dilaksanakan setiap tahun, yang dilaksanakan setiap hari Rabu bulan keempat setiap tahunnya.

“Tradisi Mandai Ulu Taon ini kita laksanakan setiap tahun. Karena Pandemi tahun lalu terpaksa kita tiadakan, tapi tahun ini kita laksanakan sesuai dengan Prokes. Terlaksananya Mandai Ulu Taon tahun ini karena masyarakat banyak bernazar,” terangnya.

Baca juga: Melihat Istana Rokan di Kabupaten Rokan Hulu Riau

“Nazar masyarakat itu terdiri dari Ayam 400 ekor, Kambing 12 ekor dan Sapi 1 ekor. Tradisi Mandai Ulu Taon ini dilaksanakan setiap Rabu bulan ke empat, tidak bisa dilaksanakan hari lainnya, sebagai mengingat Raja Mandailing Perempuan Boru Namora Suri Andung Jati dan wujud syukur kita setelah masa panen masyarakat,” jelasnya.

Dikegiatan itu, seluruh tamu undangan juga melakukan Ziarah di Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati dan Makam Sutan Laut Api, kemudian dilanjutkan dengan Mandai Ulu Taon (Makan Bersama).

Sebagai catatan, suku Mandailin ini merupakan salah satu suku yang berada di Kabupaten Rokan Hulu, jika melihat sejarah tentu suku Mandailing yang ada di Rokan Hulu ini merupakan suku pendatang dari Provinsi Sumatra Utara yang sebelumnya terlibat perang saudara didaerah Padang Gelugur hingga menetap dan tinggal di wilayah Kabupaten Rokan Hulu.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id  Boru Namora Suri Andung Djati merupakan raja dari Kerajaan Padang Galugur yang berada di Tapanuli Selatan. Perpindahan Boru Manora ke Pasir Pengaraian disebabkan Kerajaan Padang Galugur diserang oleh Kerajaan Siantar dibawah pimpinan Raja Pulungan.

Dalam penyerangan tersebut Kerajaan Padang Galugur mengalami kekalahan dan Boru Namora bersama dengan rakyatnya melarikan diri, ke daerah Tambusai sekarang. Dari Tambusai tersebut mereka menyusuri daerah baru yang akhirnya menetap di Pasir Pengaraian sekarang tepatnya di Huta Haiti Kecamatan Rambah.

Peninggalan dari Boru Namora sekarang hanyalah rumah yang pada awalnya merupakan rumah tinggal dari keluarga Boru Namora. Perpindahan Boru Namora dari Tapanuli Selatan ke Pasir Pengarayan diperkiraan pada abad 16 Masehi.

Pada dasarnya bangunan ini mirip dengan rumah tradisional suku Mandailing di Tapanuli selatan dengan bentuk rumah berkolong dan/atau rumah panggung. Pada bagian bawah kolong dilengkapi dengan batu sandi.

Secara umum, rumah ini terbuat dari bahan mudah lapuk yaitu kayu, ijuk. Kerangka rumah semuanya berbahan kayu, termasuk juga bagian dinding, pintu, jendela, lantai dan tiang rumah. Sedangkan, pada bagian atas (atap) menggunakan baha ijuk sebagai atap. Di sisi barat dari Rumah Suri Andung Djati terdapat bagunan panggung yang merupaka Istana dan juga Balai Adat.

Posisi dari bangunan ini berbentuk panggung dengah jarak dari tanah sekitar satu meter. Bangunan ini telah mengalami pemugaran dengan tidak merubah bentuk dan lokasi awal bangunan tersebut berada. Perubahan yang telah dialami hanya pada menganti bahan dari bangunan tersebut yang sudah banyak yang rusak. Dinding bangunan yang pada awalnya berasal dari kulit ohon aren telah digantikan dengan papan begitu juga dengan lantai bangunan tersebut. Ukuran dari bangunan ini memiliki luas 96 m2 panjang 12 m dan lebar 8 m.

Pada awalnya bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal yang menurut pemilik bangunan didirikan sekitan abad 17 an. Sekarang bangunan ini hanya digunakan utuk kegiatan-kegiatan tradisi khususnya di Huta/Desa Haiti.

--

Sumber:

tribunpekanbaru.com
repository.uin-suska.ac.id
media.neliti.com
kebudayaan.kemdikbud.go.id

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved