Tradisi Mandai Ulutaon di Rokan Hulu Riau

Tradisi Mandai Ulutaon merupakan tradisi makan bersama ydi Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau

Editor: Aan Ramdani
Istimewa
Suasana Pelaksanaan Tradisi Mandai Ulutaon di Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Rabu (7/4/2021) 

“Nazar masyarakat itu terdiri dari Ayam 400 ekor, Kambing 12 ekor dan Sapi 1 ekor. Tradisi Mandai Ulu Taon ini dilaksanakan setiap Rabu bulan ke empat, tidak bisa dilaksanakan hari lainnya, sebagai mengingat Raja Mandailing Perempuan Boru Namora Suri Andung Jati dan wujud syukur kita setelah masa panen masyarakat,” jelasnya.

Dikegiatan itu, seluruh tamu undangan juga melakukan Ziarah di Jejak Terakhir Boru Namora Suri Andung Jati dan Makam Sutan Laut Api, kemudian dilanjutkan dengan Mandai Ulu Taon (Makan Bersama).

Sebagai catatan, suku Mandailin ini merupakan salah satu suku yang berada di Kabupaten Rokan Hulu, jika melihat sejarah tentu suku Mandailing yang ada di Rokan Hulu ini merupakan suku pendatang dari Provinsi Sumatra Utara yang sebelumnya terlibat perang saudara didaerah Padang Gelugur hingga menetap dan tinggal di wilayah Kabupaten Rokan Hulu.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id  Boru Namora Suri Andung Djati merupakan raja dari Kerajaan Padang Galugur yang berada di Tapanuli Selatan. Perpindahan Boru Manora ke Pasir Pengaraian disebabkan Kerajaan Padang Galugur diserang oleh Kerajaan Siantar dibawah pimpinan Raja Pulungan.

Dalam penyerangan tersebut Kerajaan Padang Galugur mengalami kekalahan dan Boru Namora bersama dengan rakyatnya melarikan diri, ke daerah Tambusai sekarang. Dari Tambusai tersebut mereka menyusuri daerah baru yang akhirnya menetap di Pasir Pengaraian sekarang tepatnya di Huta Haiti Kecamatan Rambah.

Peninggalan dari Boru Namora sekarang hanyalah rumah yang pada awalnya merupakan rumah tinggal dari keluarga Boru Namora. Perpindahan Boru Namora dari Tapanuli Selatan ke Pasir Pengarayan diperkiraan pada abad 16 Masehi.

Pada dasarnya bangunan ini mirip dengan rumah tradisional suku Mandailing di Tapanuli selatan dengan bentuk rumah berkolong dan/atau rumah panggung. Pada bagian bawah kolong dilengkapi dengan batu sandi.

Secara umum, rumah ini terbuat dari bahan mudah lapuk yaitu kayu, ijuk. Kerangka rumah semuanya berbahan kayu, termasuk juga bagian dinding, pintu, jendela, lantai dan tiang rumah. Sedangkan, pada bagian atas (atap) menggunakan baha ijuk sebagai atap. Di sisi barat dari Rumah Suri Andung Djati terdapat bagunan panggung yang merupaka Istana dan juga Balai Adat.

Posisi dari bangunan ini berbentuk panggung dengah jarak dari tanah sekitar satu meter. Bangunan ini telah mengalami pemugaran dengan tidak merubah bentuk dan lokasi awal bangunan tersebut berada. Perubahan yang telah dialami hanya pada menganti bahan dari bangunan tersebut yang sudah banyak yang rusak. Dinding bangunan yang pada awalnya berasal dari kulit ohon aren telah digantikan dengan papan begitu juga dengan lantai bangunan tersebut. Ukuran dari bangunan ini memiliki luas 96 m2 panjang 12 m dan lebar 8 m.

Pada awalnya bangunan ini berfungsi sebagai tempat tinggal yang menurut pemilik bangunan didirikan sekitan abad 17 an. Sekarang bangunan ini hanya digunakan utuk kegiatan-kegiatan tradisi khususnya di Huta/Desa Haiti.

--

Sumber:

tribunpekanbaru.com
repository.uin-suska.ac.id
media.neliti.com
kebudayaan.kemdikbud.go.id

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved