Polda Riau Tetapkan 9 Tersangka Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan

Polda Riau menetapkan 9 orang tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Riau terhitung sejak Januari 2021.

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com/Doddy Vladimir
Sebanyak sembilan tersangka Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dihadirkan saat apel kesiapsiagaan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di halaman Pemerintah Provinsi Riau, Selasa (16/3/2021). 

Polda Riau Tetapkan 9 Tersangka Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Polda Riau menetapkan 9 orang tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Riau terhitung sejak Januari 2021.

9 tersangka tersebut merupakan pelaku pembakaran perorangan meliputi 1 kasus di Kabupaten Meranti, dengan 1 orang tersangka berinisial ZUL.

Lalu 3 kasus di Kabupaten Bengkalis, dengan 3 orang tersangka, masing-masing berinisial MIS, SAN, dan YUN.

Kemudian, 2 kasus di Kota Dumai, dengan 2 orang tersangka. Mereka adalah PET dan FIK.

Kemudian 1 kasus di Kabupaten Kampar, dengan tersangka EDO, 1 kasus di Kabupaten Inhil dengan tersangka MAS, dan 1 kasus di Kabupaten Pelalawan, dengan tersangka SUR.

Baca juga: 657,71 Hektare Hutan dan Lahan di Riau Terbakar

Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi, Selasa (16/3/2021) mengatakan, para tersangka membakar lahan, terlebih dahulu melakukan pembersihan dengan cara menebas semak belukar.

"Setelah ditebas kemudian dibiarkan hingga kering hingga selanjutnya dilakukan pembakaran. Pembakaran dilakukan agar mempercepat proses pembersihan lahan milik para tersangka," ucapnya.

Kapolda menegaskan, para tersangka dijerat Pasal 108 Jo Pasal 69 Ayat (1) huruf h UU RI Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ancamannya, pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.

Berikutnya pasal 108 Jo Pasal 56 Ayat (1) UU RI Nomor 39 Tahun 2014, tentang Perkebunan dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Dan pasal 78 Ayat (3) Jo Pasal 50 Ayat (3) huruf d UU Nomor 41 Tahun 1999, tentang Kehutanan dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Sementara itu, penyidik juga telah melakukan pemeriksaan terhadap 14 orang saksi, termasuk 7 orang saksi ahli.

Diantaranya Prof. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr, ahli dibidang Kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan IPB, Ir. Amrizal, ahli perkebunan dari Dinas Perkebunan Provinsi Riau.

Baca juga: Begini Perkembangan Proyek Tol Pekanbaru - Padang

Selanjutnya Dr. Basuki Wasis, ahli kerusakan lingkungan IPB, Yahya T Sebastian, S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi, Helvi S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi.

Albano Amral, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi, dan terakhir Adam Sopyan, S.Hut, ahli Planologi Kehutanan dari UPT KPH Bagan Siapiapi.

"Sementara yang masih tahap penyelidikan yakni Karhutla yang terjadi di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.

"Saat ini dalam proses pemenuhan alat bukti untuk ditingkatkan ketahap penyidikan," beber Agung.

---

(tribunpekanbaru.com)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved