Desa Teluk Latak Bengkalis Kembangkan Batik Tenun Motif Pucuk Rebun

Desa Teluk Latak, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau menjadi sentra pembuatan kain tenun khas Bengkalis.

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com
Pelatihan batik tenun oleh BUMDes Langgam Sako Desa Teluk Latak, Bengkalis 

Desa Teluk Latak Bengkalis Kembangkan Batik Tenun Motif Pucuk Rebun

TRIBUNPEKANBARUWKI.COM - Desa Teluk Latak, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau menjadi sentra pembuatan kain tenun khas Bengkalis.

Satu diantaranya kain tenun yang cukup dikenal dari Bengkalis yakni kain tenun Lejo yang sampai hari ini masih diproduksi oleh kaum wanita di desa tersebut.

Menenun Lejo sudah dilakukan secara turun temurun oleh warga Desa Teluk Latak khususnya warga suku melayu.

Namun kain tenun ini biasanya pemakaiannya cukup terbatas, kegunaannya kain hanya sebatas untuk pakaian pesta pernikahan dan kegiatan khas kemelayuan saja. Selain itu kain tenun tidak bisa dicuci seperti kain atau paiakan pada umumnya.

Berangkat dari sini Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Teluk Latak berinisiatif motif kain tenun dijadikan batik seperti halnya yang dilakukan di pulau Jawa.

Sehingga penggunaannya bisa lebih umum lagi dan digunakan sebagai pakaian berbagai kegiatan.

Untuk mewujudkan niat ini BUMDes yang dipimpin oleh Norizal mencoba menjajaki daerah yang membuat batik, terutama di daerah Riau. Karena mereka sama sekali tidak punya pengetahuan bagaimana pembutan batik.

Bermodalkan niat, tim BUMDes Langgam Sako Desa Teluk Latak awal tahun lalu mengunjungi batik Riau di Pekanbaru. Kunjungan mereka mendapatkan sambutan yang sangat baik dan diberikan apresiasi oleh pengelola batik Riau.

Salah satu batik tenun yang berhasil diperoduksi
Salah satu batik tenun yang berhasil diperoduksi (tribunpekanbaru.com)

Baca juga: Daftar 6 Atlet Inhil Riau yang Ikut Seleksi Timnas U-19

Baca juga: Sonang dan Vitdriansyah Putra Wakili Riau di LIDA 2021, Berikut Daftar Lengkap 70 Peserta

"Namun saat itu Ketua Batik Riau yang kita kunjungi memiliki kesibukan dan tidak bisa datang ke desa untuk memberikan pelatihan membatik. Apalagi saat itu kondisi Covid 19 melanda pelatihan membatik pun ilmu urung terlaksana karena kondisi yang terjadi," terangnya.

Hampir satu tahun rencana memiliki batik tenun tertunda. Namun BUMDes ini tidak putus asa, pengurus BUMDes mencoba kembali mencari daerah yang memproduksi batik di Riau yang mau berbagi ilmu.

"Akhirnya kita ketemu dengan ketua produksi batik andalan di Pelalawan. Batik di sana juga cukup maju dan juga mereka dapat dukungan dari perusahaan yang ada di sana dan pemerintah daerah," terangnya.

Norizal bersama pengurus BUMDes Langgam Sako berkunjung ke sana menyampaikan niat untuk belajar membatik pada akhir tahun lalu. Dirinya bersyukur saat itu keinginannya disambut antusias oleh pengelola batik andalan pelalawan.

"Mereka bersedia datang ke Bengkalis untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat kita. Karena meraka juga sudah banyak melatih daerah lain di luar Pelalawan," cerita Norizal.

Akhirnya pelatihan membatik yang diimpikan sejak setahun dilaksanakan pada akhir Januari 2021selama sepuluh hari. Pihak BUMDes menyiapkan tenaga yang akan dilatih sebanyak 15 orang.

Mereka yang dipilih secara khusus oleh BUMDes, tenaga yang dilatih dipilih mereka yang memang tidak memiliki pekerjaan. Ini dilakukan dengan tujuan membuka lapangan kerja baru warga Teluk Latak yang belum bekerja.

"Dengan pelatihan ini akhirnya lima belas orang warga Teluk Latak memiliki keterampilan baru. Bisa diberdayakan untuk memproduksi batik tenun," terangnya.

Setelah mendapatkan keterampilan, BUMDes Langgam Sako kemudian membuatkan rumah produksi batik tenun dengan motif batik sesuai dengan motif kain tenun yang biasa diproduksi warga Desa Teluk Latak. Pihaknya cukup serius dalam mengelola rumah batik tenun ini, meskipun tidak memiliki basic dalam manajemen pemasaran, pihak BUMDes mengandeng Politeknik Negeri Bengkalis untuk mengelola manajemen pemasarannya.

"Kita mau transparan dengan tenaga kerja yang kita latih kemarin. Serta menajemen juga harus bagus makanya kita gandeng Politeknik untuk membantu kita," terangnya.

Harga satuan kain batik tenun ini sekitar tiga ratus ribu rupiah. Ini sudah dikaji oleh menajemen yang dibentuk mulai dari biaya produksi dan bahannya, diseusaikan dengan harga jual.

Dengan harga segitu sejauh ini penjualan batik tenun buatannya cukup terjangkau bagi kalangan menengah keatas. Terutama di kalangan pemerintahan Bengkalis sudah memesanan jumlahnya cukup lumayan.

Lebih kurang selama dua bulan ini berjalan, tempahan yang diterima sebanyak tiga puluh dua helai kain batik. Bahkan juga sudah ada tempahan secara pribadi oleh pegawai di Bengkalis untuk kain batik tenun ini.

Desa Teluk Latak Bengkalis Sedang mengembangkan Batik Tenun Motif Pucuk Rebun
Desa Teluk Latak Bengkalis Sedang mengembangkan Batik Tenun Motif Pucuk Rebun (tribunpekanbaru.com)

Baca juga: Mengenal Tari Zapin di Kampung Zapin di Desa Meskom Bengkalis Riau

Baca juga: Bupati Bengkalis Kasmarani

Motif Tenun Pucuk Rebung Menjadi Andalan

Guna menjaga kualitas terbaik, BUMDes Langgam Sako mendatangkan bahan kain batik langsung dari jogjakarta bahan terbaik. Dengan motif tersendiri yang sudah modifikasi dari motif tenun yang ada.

"Kalau sejauh ini motif yang kita buat motif pucuk rebung. Namun dengan modifikasi sendiri menjadi ciri khas kita sendiri," terang Norizal.

Setidaknya ada sekitar dua belas turunan motif pucuk rebung yang sudah diciptakan tim batik tenun Langgam Sako. Semuanya hasil reka pembatik Teluk Latak Bengkalis yang berjumlah 15 orang.

Menurut dia, sebenarnya pemerintah Bengkalis memiliki motif batik sendiri yang sudah dipatennya. Yakni batik terubuk yang dikelola tim PKK Bengkalis.

Namun untuk produksinya mereka langsung produksi di Jogjakarta menggunakan sistem batik cetak. Setelah ibu Sekda berkunjung ke desa Teluk Latak, mereka tergagum dengan produksi batik Tenun Teluk Latak, apalagi batik tenun di sini merupakan batik lukis.

"Ibu Sekda sempat sampaikan ke kita ke depan akan memberdayakan pembatik Teluk Latak untuk produksi batik terubuk mereka. Karena dari segi hasil setelah dibandingkan memang jauh lebih bagus batik lukis kita daripada batik cetak mereka," ungkap Norizal.

Batik tenun buatan Desa Teluk Latak ini diproduksi secara manual, satu kain batik untuk bahan baju diproduksi selama lima hari dikerjakan oleh dua orang. Pekerjanya mendapat upah sekitar seratus ratus ribu rupiah perorangnya, satu kain batik dikerjakan dua orang.

"Ini tentu membantu masyarakat di sini menambah penghasilan. Jika semakin banyak orderan kita tentu semakin banyak juga ke depannya mereka yang tidak memiliki pekerjaan bisa diberdayakan," kata Norizal.

Baca juga: Tumpukan Batu Peninggalan Abad Ke-14 Ditemukan di Makam Datuk Gigi Putih Desa Temiang Riau

Pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memberikan dukungan pihaknya untuk mengembangkan batik tenun ini. Apalagi yang dilakukannya BUMDes ini membanggun UMKM dengan memberdayakan masyarakat desa.

"Kita sangat mengharapkan binaan dari pemerintah daerah. Apalagi dari dinas koperasi dan UMKM dan Dinas Perdagangan dan Industri Bengkalis, mereka memiliki program pembinaan terhadap UMKM yang ada di Bengkalis, kita berharap bisa menjadi bagian dari pembinaan mereka," tambahnya.

Pihaknya sudah mengajukan permohonan untuk masuk dalam pembinaan dua instansi ini. Tinggal menunggu dari pemerintah Bengkalis sendiri bagaimana merangkul mereka sebagai UMKM binaan.

"Paling tidak kita berharap dapat binaan dalam pemasaran produk, sehingga penjualan batik tenun ini bis dikenal sampai keluar daerah kedepannya. Karena besar keinginan kita ini bisa berkembang, dengan demikian banyak warga yang belum bekerja bisa kita rangkul nantinya di produksi batik tenun ini," tandasnya.

--

(tribunpekanbaru.com/ Muhammad Natsir)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved