Sofian, Peternak Inhu yang Manfaatkan Limbah Kelapa Untuk Pakan Ternak

Sofian, ia merupakan seorang peternak ikan yang ada di Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau.

tribunpekanbaru.com
Sofian bersama rekan-rekanya memproduksi pakan ternak ikan lele sendiri dari ampas kelapa 

Sofian, Peternak Inhu yang Manfaatkan Ampas Kelapa Untuk Pakan Ternak

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Sofian, ia merupakan seorang peternak ikan yang ada di Kabupaten Indragiri Hulu atau disingkat Inhu.

Semakin mahalnya harga pakan ternak membuat Sofian harus memutar otak untuk menghemat biaya produksi.

Sofian pun berusaha untuk bisa membuat pakan ternak ikan lele yang ia rintis. Menurut Sofian, membuat pakan sendiri bisa menekan biya.

Warga Kecamatan Tembilahan inipun coba berinovasi dengan membuat pakan ternak ikan lele dengan memanfaatkan limbah buah kelapa (ampas) yang cukup mudah didapat di Kabupaten Indragiri Hulu.

“Belakangan ini kan harga pakan ikan naik, jadi saya berinisiatif untuk membuat pakan ikan menggunakan bahan – bahan yang ada, seperti ampas kelapa, ampas tahu dedak padi, tepung ikan, tepung udang dan tepung tapioka untuk menghemat pengeluaran,” jelas Pemuda yang beralamat di jalan ponegoro parit 4 Pekan Kamis ini kepada tribunpekanbaruwiki.com

Sofian menjelaskan, proses pembuatan makanan ikan itu dikerjakan secara manual.

Proses awalnya bahan-bahannya harus disaring terlebih dulu agar lebih halus kemudian semua dicampurkan lalu digiling melalui mesin penggiling.

"Hasil dari olahan tersebut jika kondisi cuaca mendukung bisa mencapai 40 kg produksinya dalam sehari, tapi kalau kondisi cuaca mendung tidak sampai segitu, karena utamanya harus kering biar bagus hasilnya,” jelasnya.

Menurut Sofian, pembuatan pakan ikan ini dijalaninya selama kurang lebih 2 bulan, namun dirinya mengakui masih belum maksimal mengingat dirinya masih pemula dan perlu terus belajar untuk meningkatkan produksi.

“Alhamdulilah selama 2 bulan terakhir saya jarang membeli produk luar, kecuali untuk ikan yang masih kecil-kecil karena makanan yang diproduksi tidak sesuai dengan porsinya,” imbuhnya.

Terakhir Sofian berharap perhatian pemerintah daerah untuk mendukung fasilitas produksi agar memenuhi kebutuhan pasar.

“Produk ini belum dijual karena stok masih terbatas, dan masih terkendala dengan proses pembuatan yang masih menggunakan sistem manual, kami berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah,” pungkasnya.

--
(Tribunpekanbaru.com/T. Muhammad Fadhli).

Ikuti kami di
Editor: Aan Ramdani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved