Harimau Sumatra Bernama Corina Dilepas Liarkan di Kawasan Restorasi Ekosistem Riau

Corina itulah nama Harimau Sumatra yang berhasil dievakuasi dari jerat pemburu di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan 28 Maret 2020 lalu.

Editor: Aan Ramdani
Dok.Balai Besar KSDA Riau
Corina Harimau Sumatra sebelum dilepasliarkan 

Harimau Sumatra Bernama Corina Dilepas Liarkan di Kawasan Restorasi Ekosistem Riau

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Corina itulah nama Harimau Sumatra yang berhasil dievakuasi dari jerat pemburu di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan 28 Maret 2020 lalu.

Pemberian nama Corina ini tidak terleps dari pandemi covid-19 atau corona yang sedang melanda.

Kondisi luka parah pada bagian kaki Corina cukup mengkhawatirkan kala itu dan mengharuskan mendapatkan perawatan untuk memulihkan kembali Harimau Sumatra yang masih muda ini.

Sejak dievakluasi Harimau Sumatra bernama Corina ini mendapatkan perawatan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya ARSARI.

Perkembangan Harimau Sumatra ini semakin membaik setelah 9 bulan berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra.

Diawal perawatan , Corina berusia lebih kurang 3 tahun dengan berat badan 77,8 Kg.

Kemudian kondisi Corina juga mengalami luka pada bagian kaki depan kanan dengan luka cukup dalam dan lebar dengan tendon yang masih utuh.

Harimau Sumatra bernama Corina berlari saat proses pelepasliaran
Harimau Sumatra bernama Corina berlari saat proses pelepasliaran (Dok.Balai Besar KSDA Riau)

Baca juga: Kasihan, Bayi Berung Madu Terpisah dari Induknya Ditemukan Warga

Baca juga: Gedung Megah Polda Riau Senilai 172 Miliar Rupiah

Baca juga: Mengenal Sosok Emrizal Pakis

Kini kondisi tersebut sudah berubah kearah yang positif, kesehatan dan perilaku Harimau Sumatera Corina semakin lebih baik dengan berat badannya yang bertambah menjadi sekitar 89 Kg.

Atas kondisi Harimau Sumatra bernama Corina ini yang semakin membaik akhirnya upaya pelepas liaran keambali kealamnya pun harus segera dilakukan.

Tepat pada Pukul 09.00 Wib, Minggu (20/12/2020) si Corina akhirnya dilepas liar ke alamnya di kawasan Restorasi Ekosistem Riau.

Pelepasliaran Corina dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK Wiratno , ikut serta dalam pelepasliaran antara lain tim Balai Besar KSDA Riau, Tim PRHSD, serta tim APRIL/ RER - PT. Gemilang Cipta Nusantara.

Penentuan lokasi pelepasliaran dilakukan berdasarkan hasil kajian kesesuaian habitat oleh Tim Pakar yang dipimpin oleh Prof. Satyawan Pudyatmoko dari Fakultas Kehutanan UGM.

“Semoga Corina dapat bertahan di alam dan dapat berkembang biak, sehingga populasi Harimau Sumatera semakin meningkat. Kami juga berharap, semakin banyak satwa yang terselamatkan dan tidak ada lagi satwa yang mati atau terluka akibat jerat,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau , Suharyono.

Menurutnya Suharyono, dukungan para pihak dalam penyelamatan satwa liar sangat diperlukan, karena upaya konservasi harus dilakukan bersama-sama.

Kampanye “Operasi Sapu Jerat” akan terus dilakukan oleh Balai Besar KSDA terutama di wilayah kawasan konservasi dan di seluruh habitat Harimau Sumatera, termasuk di seluruh Semenanjung Kampar.

Baca juga: Cerita Amat Purnomo Saat Berjuang Hadapi Penjajah, Veteran Yang Kini Tinggal di Tembilahan Riau

Baca juga: Keluh Kesah Pedagang Pasar Bawah Pekanbaru di Tengah Pandemi Covid-19

Baca juga: Profil Gayatri Chandra, Kontestan Indonesian Idol

Sebelumnya, penyelamatan Harimau Sumatera “Corina” diawali dari informasi manajemen PT RAPP pada 28 Maret 2020, pukul 16.00 WIB, bahwa salah satu pekerja lapangan melihat satwa Harimau Sumatera yang terjerat di areal Estate Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

Pada keesokan harinya, tanggal 29 Maret 2020, pukul 12.30 WIB, tim medis Balai Besar KSDA Riau berhasil membuka jerat Harimau Sumatera yang berjenis kelamin betina tersebut dan diketahui bahwa kondisi kaki kanannya mengalami luka yang sangat serius.

Disamping itu, berdasarkan hasil laboratorium diketahui bahwa Corina mengalami Anemia Makrositik Normokromik (Non regenerasi), yaitu anemia atau kekurangan darah karena kurangnya asupan nutrisi dan deep laserasi atau luka yang dalam.

Corina dilakukan perawatan secara intensif di kandang karantina untuk memperhatikan perkembangan luka jerat pada kaki kanan serta kondisi kesehatannya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved