Butuh Bantuan Dana, Asma Nabila Bayi yang Lahir Tanpa Anus di Pelalawan Riau

Asma Nabila, ia merupakan bayi yang lahir di Pelalawan Riau dengan kondisi tidak sempurna tanpa anus, butuh bantuan dana

Editor: Aan Ramdani
Isimewa
Asma Nabila, bayi berusia 1 bulan yang berasal dari Desa Air Mas Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan yang lahir tanpa anus. (Istimewa) 

Butuh Bantuan Dana, Asma Nabila Bayi yang Lahir Tanpa Anus di Pelalawan Riau

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Asma Nabila, ia merupakan bayi yang lahir di Pelalawan Riau dengan kondisi tidak sempurna tanpa anus.

Asma Nabila lahir pada 27 September 2020 lalu, anak pertama dari pasangan Adon (41) dengan Tini Nuraini (45).

Tentusaja kondisi ini membuat Asma Nabila buang air besat sejak ia lahir ke dunia.

Sebuah daging berwarna merah darah menyembul di perut sebelah kiri seorang bayi yang masih belia, tepat disamping kiri pusarnya. Diikat dengan alat khusus serta dijahit menggunakan benang medis hitam.

Daging merah yang kurang lebih sepanjang 3 centimeter itu ternyata sangat berguna bagi bayi perempuan itu. Bahkan menentukan kelangsungan hidup balita bernama Asma Nabila tersebut. Sebab berhubungan langsung dengan sistem utama pencernaan anak yang baru genap berumur satu bulan itu.

"Itu merupakan anus buatan yang dibuat oleh dokter. Operasi tahap pertama sudah dijalani beberapa waktu lalu," ungkap relawan Rumah Duafa Pelalawan, Dedi Azwandi, saat berbincang dengan tribunpekanbaruwiki.com, Kamis (5/11/2020).

Baca juga: Kisah Bripda Habibi, Polisi Riau yang Nyambi Jualan Mie Aceh di Tembilahan Inhil

Baca juga: Nikati Keindahan Alam di Wisata Batu Gajah Rohul

Baca juga: Menikmati Keindahan Wisata Alam Ulu Kasok, Raja Ampatnya Riau

Dengan adanya anus buatan ini maka Asma Nabila bisa BAB.

Saat berbincang dengan Tribunpekanbaruwiki.com, Dedi menunjukan foto-foto bayi perempuan malang itu yang diawasi oleh Rumah Duafa Pelalawan.

Awalnya, orangtua Asma membawanya berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selasih Pangkalan Kerinci setelah satu pekan lahir.
Lantaran perut sang bayi membesar dan tidak pernah buang hajat. Setelah diperiksa terjadi lubang dubur bayi malang itu tidak ada dan harus menjalani operasi pembuatan anus oleh tim dokter.

Peralatan dan tim medis yang dimiliki RSUD Selasih tidak memadai, kemudian dengan batuan Rumah Duafa, Asma diboyong ke RSUD Arifin Ahmad Kota Pekanbaru.

Proses pengobatan menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang diurus dari Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan hingga ke Diskes Provinsi Riau, agar segera bisa ditangani.

Operasi tahap l dilakukan dengan pembuatan anus alternatif agar bayi itu bisa buang hajar. Dokter memutuskan untuk membelah perut sebelah kiri tepat disamping pusar dengan mengeluarkan sedikit usus besar agar BAB lancar.

"Karena kalau untuk operasi pembuatan anus, umur pasien harus tiga bulan. Itu saran dokter. Makanya kita tunggu sampai cukup umur, baru dibawa ke sana untuk operasi," tambah Dedi.

Baca juga: Empat Hotel Paling Dekat Bandara di Pekanbaru

Baca juga: Muhibbah Travel, Perusahaan Travel Haji dan Umrah di Pekanbaru

Baca juga: Daftar Tujuh Kecamatan di Kota Dumai

Pihaknya mengumpulkan donasi dari berbagai kalangan untuk kebutuhan pengobatan Asma. Meski telah ditanggung pemerintah, namun biaya operasional keluarga tetap juga besar, ditambah lagi obat-obatan maupun asupan gizi tambahan lainnya di luar tanggungan Pemda.

Upaya pengumpulan dana dilakukan dengan mengutip dari masyarakat yang peduli, hamba Allah, hingga konser amal yang digelar para seniman. Ada juga paguyupan yang terdorong hatinya untuk membantu.

"Dari penggalangan dana terkumpul Rp 4 juta dan kemudian sumbangan dari perkumpulan masyarakat Tionghoa Rp 5 juta. Total sudah ada Rp 9 juta. Kita akan galang terus," katanya.

Selain untuk perobatan, Rumah Duafa menargetkan membantu merehabilitasi rumah orangtua Asma yang terletak di SP 3 Desa Air Mas Kecamatan Ukui yang kondisinya memprihatikan. Bangunan sangat kecil dan lebih parahnya masih berlantaikan tanah dan belum semen atau keramik. Itu yang akan diperbaiki oleh Rumah Duafa agar kesehatan bayi malang itu bisa terkontrol. Kondisi perekomian keluarga juga dibawah garis kemiskinan. Ayahnya hanya bekerja serabutan, kadang sebagai kuli bangunan dan buruh kebun masyarakat.

"Kita bantu juga mengurus KTP dan KK mereka. Sebelumnya di Bogor sekarang sudah Pelalawan. Memang sudah lama tinggal di Ukui, tapi tak memiliki akses mengurusnya," tanda Dedi.

Bagi masyarakat atau kelompok yang ingin menyalurkan donasinya dalam membantu perobatan Asmah, bisa menghubungi rumah duafa Pelalawan atau langsung datang ke kantor. Pasalnya, dana yang dibutuhkan cukup besar untuk rencana perobatan hingga merehabilitasi rumahnya.

--

(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved