Wisata Riau

Benteng Tujuh Lapis, Sejarah Perjuangan Tanku Tambusai di Dalu-Dalu Riau Hadapi Penjajah Belanda

Benteng Tujuh Lapis terletak di Desa Dalu Dalu, Rokan Hulu, Riau merupakan peninggalan sejarah perjuanan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai

Editor: Aan Ramdani
tribunpekanbaru.com
Benteng Tujuh Lapis berbentuk gundukan tanah merupakan perjungan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai bersama pasukan dan masyarakat dalu-Dalu dalam menghadapi penjajah Belanda 

Benteng Tujuh Lapis, Sejarah Perjuangan Tanku Tambusai di Dalu-Dalu Riau Hadapi Penjajah Belanda

TRIBUNPEKANBARU.COM - Saksi bisu perjuangan para pejuang menghadapi kolonial Belanda terdapat dibeberapa daerah di Provinsi Riau, satu diantaranya merupakan Benteng Tujung Lapis atau yang dikenal juga dengan nama Benteng Aur Kuning terletak di Desa Dalu-Dalu Kelurahan Tambusai Tengah, Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu atau Rohul, Provinsi Riau.

Benteng Tujuh Lapis merupakan bukti perjuangan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai dan pasukannya serta masyarakat Dalu-Dalu dalam bertahan menghadapi serangan penjajah Belanda.

Keberadan Benteng Tujuh Lapis ini berada di Tepian Sungai Batang Sosah. Dulu sungai inipulah lah yang menjadi satu-satunya jalur transfortasi yang digunakan kala itu sebelum ada jalan darat seperti saat ini.

Bentuk Benteng Tunjuh lapis ini memang berbeda dengan benteng-benteng peninggalan sejarah lainnya yang ada di Indonesia.

Jajaran Disparbud kabupaten rokan hulu foto bersama usai melakukan ukur areal Benteng Tujuh Lapis
Jajaran Disparbud kabupaten rokan hulu foto bersama usai melakukan ukur areal Benteng Tujuh Lapis (tribunpekanbaru.com)

Baca juga: Istana Siak

Baca juga: Candi Muara Takus

Baca juga: Tumpukan Batu Peninggalan Abad Ke-14 Ditemukan di Makam Datuk Gigi Putih Desa Temiang Riau

Benteng tujuh lapis ini berbentuk gundukan-gundukan tanah yang terbuat dari tanah liat yang ada disekiatar Sungai Batang Sosah. Sepintas jika dilihat Benteng Tujuh Lapis ini memang tidak ada yang spesial.

Namun jika tribuners amati dan melihat sejarah perjuangan, Benteng Tujuh Lapis ini dibangun sekitar tahun 1784-1882 atau 1,5 abad silam, dalam kondisi dan suasana dijajah waktu itu dan belum ada teknologi canggih seperti sekarang ini, semua tentunya akan sepakat jika cagar budaya nasional ini merupakan suatu hal yang luar biasa dan monumental.‎

Adanya Beteng Tujuh Lapis ini juga tidak terlepas dari sejarah Perang Padri yang terjadi di Sumatra Barat dan sekitarnya.

Benteng Tujuh Lapis terbuat dari tanah berupa gundukan berbentuk tanggul setinggi ±3 m. Selain itu, disekitar Benteng Tujuh Lapis juga dibangun parit-parit pertahanan.
Pembangunan Benteng Tujuh Lapis ini memanfaatkan kondisi lingkungan alam dan geografis yang sangat strategis. Guna menghambat laju gerakan musuh, dahulunya di sekitar benteng juga ditanami dengan bambu serta pos-pos penjagaan ditiap-tiap penjuru Benteng Tujuh Lapis.

Meriam peninggalan sejarah yang berada di kawasan Benteng Tujuh Lapis Desa Dalu-Dalu Kelurahan Tambusai Tengah, Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu, Riau
Meriam peninggalan sejarah yang berada di kawasan Benteng Tujuh Lapis Desa Dalu-Dalu Kelurahan Tambusai Tengah, Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu, Riau (Isimewa)

Baca juga: 5 Benda Unik di Museum Sang Nila Utama Pekanbaru

Baca juga: 4 Jembatan Megah di Pekanbaru

Baca juga: Habib Ramadhan Kenalkan Adat dan Budaya Kampar Riau Lewat Youtube

Pada bagian dalam benteng atau bagian tengah Benteng Tujuh Lapis, dahulunya terdapat bangunan-bangunan guna kepentingan militer. Sebagai catatan Benteng Tujuh Lapis Dalu-Dalu ini merupakan kubu pertahanan terakhir “Kaum Paderi” dalam melawan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai. Diperkirakan Benteng Tujuh Lapis ini terakhir difungsikan sekitar tahun 1838.

Kajian-kajian terhadap Benteng Tujuh Lapis ini juga sudah dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya wilayah kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau 2018 lalu yang melibatkan tim yang terdiri dari 3 orang, yaitu Yusfa Hendra Bahar SS selaku Bagian Pengkaji Pelestari Cagar Budaya. Selanjutnya, Dafriansyah Putra, ST selaku Pengelola Data Cagar Budaya, dan Khairul Hidayat selaku Tekhnis Pelestarian Cagar Budaya.

"Hasil kajian yang dilakukan tim sendiri telah disahkan oleh Kepala BPCB Sumbar Drs. Nurmatias," jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Rokan Hulu Drs. Yusmar M.Si kepada tribunpekanbaru.com Rabu 20 Februari 2019 lalu.

Plang bergambar sketsa benteng tujuh lapis yang berupakan salinan sket 1838
Plang bergambar sketsa benteng tujuh lapis yang berupakan salinan sket 1838 (Isimewa)

Benteng Tujuh Lapis ini juga sering disebut masyarakat dengan nama Benteng Aur Berduri.

Kini Cagar Budaya Benteng Tujuh Lapis ini masih dalam proses pengembangan dan rencananya akan dilakukan pemugaran supaya bisa lebih tertata dan terkelola dengan baik sehingga bisa diwariskan ke generasi-generasi yang akan datang.

Tidak saja menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu, benteng tujuh lapis ini juga harus menjdi kebanggan masyarakat Indonesia umumnya.

Pintu gerbang masuk ke kawasan Benteng Tujuh Lapis peninggalan sejarah perjuangan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai bersama pasukan dan masyarakat dalu-dalu
Pintu gerbang masuk ke kawasan Benteng Tujuh Lapis peninggalan sejarah perjuangan Pahlawan Nasional Tuanku Tambusai bersama pasukan dan masyarakat dalu-dalu (Isimewa)
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved