Desi Wahyuni, Berhasil Jalani Usaha Apotek di Pekanbaru

Desi Wahyuni, ia merupakan pengusaha di bidang farmasi dari Pekanbaru yang sukses membuka apotek keluarga, berikut ini perjuangan Desi Wahyuni

Editor: Aan Ramdani
Isimewa
Desi Wahyuni, Direktur Apotek Keluarga Grup 

Desi Wahyuni, Berhasil Jalani Usaha Apotek di Pekanbaru

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM - Desi Wahyuni, ia merupukan wanita tangguh yang sukses membuka apotek di Kota Pekanbaru sejak 2014 lalu hingga saat ini 13 cabang yang ia berinama apotek keluarga.

Bahkan tidak hanya di Kota Pekanbaru, Desi Wahyuni juga membuka cabang apotek keluarga di Padang dan Bandung Jawa Barat.

Menjalankan usaha apotek keluarga ini tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan namun banyak perjuangan yang dilalui oleh Desi Wahyuni.

Usaha apotek keluarga ini ia awali dengan modal seadanya, tak sampai disitu apotek yang ia buka pertama kali di Jalan HR. Soebrantas, Tampan, Pekanbaru kala itu sepi pembeli.

"InsyaAllah 2025 target 200 cabang. Semoga (Apotek Keluarga) bisa hadir di seluruh Indonesia," jelas Desi Wahyuni selaku founder atau Direktur Apotek Keluarga Grup kepada tribunpekanbaru.com, Senin (21/9/2020) lalu.

Itulah target terbesar Desi Wahyuni. Tidak hanya sebatas mencari keuntungan saja, usaha apotek keluarga yang ia jalani ini tentu diharapkan bisa memberikan lapangan pekerjaan lebih banyak lagi kepada masyarakat.

Cabang apotek keluarga saat ini tercatat ada 13 cabang, 11 cabang berada di kota Pekanbaru dan masing-masing satu cabang di Padang Sumatra Barat dan satu di Bandung, Jawa Barat.

Dzakira Azizy Naqiya, Gadis Mungil Bermata Biru Asal Pekanbaru

Mengenal Rizky Hasian Siregar, Dokter Kecantikan di Pekanbaru

Nurul Aini Lintang Swastika, Siap Harumkan Riau di Pemilihan Putri Remaja Tingkat Nasional

Dalam kesempatan tersebut Desi Wahyuni juga bercerita diawal banyak usaha serupa yang gulung tikar, rasa takut usaha apotek keluarga yang ia buka ini akan gulung tikarpun tentu saja menghantui Desi Wahyuni.

Bukan Desi Wahyuni namanya kalau ia hanya berdiam diri, ia pun tetap bersabar dan fokus dengan bisnis yang ia jalankan ini.

Menurut Desi Wahyuni, Dua tahun pertama atau hingga 2016, apotek Desi selalu sepi. Penjualan belum terdongkrak. Di samping itu, ia juga belum fokus mengelola apoteknya karena masih bekerja di sebuah perusahaan obat bernama Pedagang Besar Farmasi (PBF).

Kemudian Desi Wahyuni sadar, bahwa berbisnis perlu fokus. Ia memutuskan keluar dari perusahaan tersebut. Alhasil di 2008 atau tahun keempat, ia bisa membuka cabang yang lokasinya tak jauh dari tempat pertama dan terus bertambah.

Desi Wahyuni tidak asal membuka cabang apoteknya. Setiap akan membuka cabang baru, pasti didahului analisa yang matang. Baik lokasi, peluang dan kesiapan tim atau karyawan.

Ia peka memanfaatkan peluang. Contohnya membuka cabang apotek keluarga ke-8 di Bandung saat kuliah.

Desi memilih kuliah di Bandung sekalian menlihat peluang bisnis apotek. Ia juga dapat mengisi waktu di luar jadwal kuliah dengan mengurus apotek.

Wujudkan Cita-cita dari Ayah

Desi Wahyuni adalah lulusan Sekolah Asisten Apoteker (SAA). Setara SLTA yang kini berubah nama menjadi SMK Farmasi. Desi Wahyuni langsung terjun di dunia kerja setelah tamat SAA.

Ia mengalah tidak melanjut ke bangku kuliah. Desi Wahyuni sadar betul terlahir di keluarga sederhana. Ia tak berkecil hati dan tak memakaa dikuliahkan orangtuanya.

Tahun 1992-1998, Desi bekerja di apotek. Pada 1995, ia diterima di PBF tanpa meninggalkan perkerjaan di apotek. Ia bekerja siang malam. "Pagi sampai sore di perusahaan, saya minta masuk malam di apotek," ujar Desi Wahyuni.

Dua pekerjaan dilaluinya tiga tahun sampai 1998. Ia harus memilih satu tempat bekerja yang dapat membuatnya banyak belajar dan mendapat ilmu tata kelola usaha. Desi Wahyuni mundur dari apotek.

Ilmu bisnis apotek diperolehnya dari bekerja di PBF. Ia sengaja memilih perusahaan yang sedang berkembang. Ia menolak bekerja di perusahaan besar dengan gaji lumayan. Berbeda dengan orang lain yang cenderung sebaliknya.

"Saya mau terlibat langsung dan ingin menjadi bagian dari pengembangan perusahaan supaya belajar langsung dengan praktik," tutur Desi.

Kisah Kiai Berkuda di Riau Bagi-Bagi Bendera Merah Putih

Sherly Putri Yandani, Wasit Cantik Asal Riau

Rattan Handmade, Tempat Kerajinan Rotan Unik di Pekanbaru

Bukan tanpa alasan, ilmu tata kelola perusahaan akan menjadi bekal baginya untuk membuka apotek. Berbisnis apotek telah dicita-citakannya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cita-cita tersebut diberikan ayahnya. Desi kecil diminta oleh sang ayah untuk kelak menjadi pengusaha farmasi. Ia berhasil mewujudkan cita-cita tersebut.

Desi puas. Bahkan di sisa hidup sang ayah, ia masih bisa memberi kebahagiaan dari kesuksesan yang digapainya sebagai pengusaha farmasi.

"Saya bilang ke Papa. Pa, sekarang saya sudah jadi pengusaha farmasi. Apa lagi yang Papa cita-citakan. Papa minta saya kuliah," ujar Desi menirukan percakapannya dengan sang ayah yang sakit-sakitan karena faktor usia.

Desi menuruti permintaan ayahnya. Tahun 2017, ia mulai kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Al-Ghifari Bandung. Sekarang ia mahasiswa Semester VII program Sarjana.

Ayahnya wafat tahun 2018. Sedangkan ibunya, belum sempat ia bahagiakan. Ibunya jauh lebih cepat dari ayahnya dipanggil menghadap Sang Khalik. Saat ibunya tiada, ia belum mendirikan apotek.

Sahirman Semangat Jual Kuliner Ikan Asin di Tol Pekanbaru-Dumai

Live Streaming Peresmian Tol Pekanbaru-Dumai oleh Presiden Joko Widodo

Mengenal Rumah Godang Sentajo di Kenagarian Sentajo Kuansing Riau

Minta Karyawan Panggil Kakak

Kata sapa di dunia kerja biasanya dengan "Bapak/Pak" atau "Ibu/Bu". Dianggap lebih sopan dan cocok di suasana formal. Berbeda dengan Desi Wahyuni yang dipanggil "Kakak/Kak".

"Karyawan saya semua panggil saya Kakak, Kak. Saya yang minta," ungkap Desi Wahyuni. Ia lebih suka dipanggil Kakak walau ada karyawan yang orangtuanya sudah seusia dengannya.

Ini adalah cara sederhana Desi Wahyuni mengakrabkan diri dengan seluruh karyawannya. Ia memperlakukan pegawainya ibarat teman. Pada saat yang tepat, karyawannya bisa bersenda gurau seperti tanpa sekat antara atasan dan bawahan.

Meski begitu, Desi tetap memposisikan diri sebagai pimpinan yang mewajibkan karyawannya disiplin. Ia menciptakan sebuah budaya kerja menyenangkan.

"Culture ini saya tularkan ke leader-leader saya," kata Desi. Leader yang dipilih memimpin tiap cabang apoteknya harus menerapkan budaya yang dia bangun tersebut kepada bawahan.

Sapaan akrab "Kak Desi" terbawa ke komunitas dan organisasi yang dia ikuti. Keterlibatannya di komunitas dan organisasi untuk memberi manfaat lebih bagi orang lain.

Ia didaulat sebagai mentor di Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Komunitas ini tempat berkumpulnya pengusaha kecil sampai besar. Lewat komunitas ini, Desi senang berbagi ilmu dan pengalaman.

Desi juga dipercaya memimpin Gabungan Pengusaha Farmasi Apotek Provinsi Riau. Motivasinya bergabung dengan organisasi ini untuk menciptakan hubungan harmonis antar pengusaha farmasi.

"Saya mau pengusaha apotek ini bersinergi. Bermitra. Semua apotek saling rangkul. Kalaupun bersaing, bersaing secara sehat," harap wanita 46 tahun ini.

Profil

Nama : Desi Wahyuni
Hobi : Travelling, Menyanyi
Motto : love what you do, do what You Love
Karir :
- Direktur Apotek Keluarga Grup (13 cabang tersebar di Pekanbaru, Bandung dan Padang )
Prestasi :
- Pekanbaru Marketing Champion 2016 Bidang Pharmaceutical dari Mark Plus
- UMKM Terbaik Riau versi One in 20 Movement Kategori Jasa
- Finalis UMKM Tingkat Nasional versi One in 20 Movement Kategori Jasa

--

(tribunpekanbaru.com/fernando)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved