Perjuangan Anak Pedalaman di TNBT Riau Lintasi Hutan Sungai dan Dikejar Satwa Liar

Melewati medan yang berat, menembus hutan, berjalan diantara pepohonan yang rindang, menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah

Editor: Aan Ramdani

Perjuagan Anak Pedalaman di TNBT Riau Lintasi Hutan Sungai dan Dikejar Satwa Liar

 

TRIBUNPEKANBARUWIKI.COM -Melewati medan yang berat, menembus hutan, melangkahkan kaki diantara pepohonan yang rindang, menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah.

Begitulah sedikit gambaran anak-anak pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh untuk mengenyam pendidikan di tempat terdekat yakni di bawah Yayasan Pelita Talang Mamak. Semangat anak-anak Taman Nasional Bukit Tiga Puluh ini tentu saja patut diacungi jempol.

Tidak sampai distu, anak-anak pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh juga kerap bertemu dengan satwa-satwa liar yang ada dihutan seperti babi hutan, ular, dan kucing akar.

Ketua Yayasan Pelita Talang Mamak, Khairin Lion mengatakan pendidikan bagi anak-anak suku Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh ini memang sudah menjadi keharusan.

Khairin yang kini sudah menjadi pengajar, mengungkapkan lebih jelas tentang perjuangan anak-anak di pedalaman TNBT untuk bisa bersekolah.

Di dalam TNBT terdapat sejumlah dusun yang menjadi pemukiman warga Talang Mamak, diantaranya dusun Air Bomban, Suit, Sadan, dan Datai yang termasuk dalam areal Desa Rantau Langsat.

Anak-anak di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) setiap hari harus berjuang melewati medan yang berat, menembus hutan, berjalan di antara pepohonan dan menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah. (Istimewa)
Anak-anak di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) setiap hari harus berjuang melewati medan yang berat, menembus hutan, berjalan di antara pepohonan dan menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah. (Istimewa) (Isimewa)

Fanji Giovani, Polisi Riau Yang Sukses Jadi Gamer

Nurul Aini Lintang Swastika, Siap Harumkan Riau di Pemilihan Putri Remaja Tingkat Nasional

Kisah Anggota Dewan Riau Dagang Bakso Tak Laku, Sugeng Pranoto

Di dusun Sadan dan Datai berdiri SDS marginal. Bagi anak-anak di Dusun Air Bomban dan Dusun Suit umumnya bersekolah di SDS Sadan.

Sementara untuk anak-anak di Dusun Datai umumnya bersekolah di SDS marginal di dusun itu sendiri.

Khairin mengungkapkan, bagi anak-anak di Dusun Air Bomban dan Dusun Suit berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan beriringan.

"Karena jaraknya jauh mereka harus berangkat jam enam pagi, karena sekolah sudah masuk jam delapan pagi," kata Khairin saat berbincang dengan Tribunpekanbaru.com, Rabu (2/9/2020) lalu.

Menurut Khairin, apabila tidak ada halangan di jalan anak-anak itu bisa sampai dalam waktu satu jam.

Kaki mereka yang dibaluk sendal jepit tampak lincah berjalan di atas tanah di antara pepohonan. Jalan yang mereka lalui tidak selalu datar, namun juga naik dan turun.

Mereka harus berjalan berkelompok dan beriringan, hal ini guna menghindari serangan hewan liar.

Anak-anak di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) setiap hari harus berjuang melewati medan yang berat, menembus hutan, berjalan di antara pepohonan dan menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah. (Istimewa)
Anak-anak di pedalaman Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) setiap hari harus berjuang melewati medan yang berat, menembus hutan, berjalan di antara pepohonan dan menyebrangi sungai yang deras untuk bisa sampai ke sekolah. (Istimewa) (Isimewa)

Kisah Kiai Berkuda di Riau Bagi-Bagi Bendera Merah Putih

Habib Ramadhan Kenalkan Adat dan Budaya Kampar Riau Lewat Youtube

Sherly Putri Yandani, Wasit Cantik Asal Riau

"Kalau berjalan sendirian mereka sering ketakutan, karena di perjalanan sering ketemu hewan liar seperti babi hutan, ular, kucing akar, dan lain-lain," kata Khairin.

Saat bertemu babi hutan, anak-anak tersebut harus memanjat pohon agar terhindar dari serangan hewan tersebut.

"Mereka akan bertahan di atas pohon, sampai babi itu pergi," kata Khairin.

Tidak cukup hanya menembus hutan dan menghindari serangan hewan liar, anak-anak pedalaman Taman Nasional Bukit tiga Puluh tersebut juga harus menyebrangi Sungai Gansal yang berarus deras dengan berjalan kaki.

"Mereka menyebrangi sungai dengan berjalan kaki dan berpegangan pada tali," kata Khairin.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved