10 Suaka Margasatwa di Riau

Provinsi Riau memiliki 10 Suaka Margasatwa yang pengawasan dan pengelolaanya dibawah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

tribunpekanbaru.com
Salah satu Kanal Cagar Biosfer Giam Siak Kecil masih terdapat kayu ilegal 2018 lalu. Tribunpekanbaru.com 

Potensi alam di Suaka Margasatwa Kerumutan ini meliputi Flora seperti tumbuhan Punak (Tetramerista glabra), Balam (Palaquium), Sagu Hutan (Metroxylon sp.), Gerunggang (Syzygium sp.), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Resak (Vatica spp.)

Kemudian Fauna meliputi satwa Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Harimau Dahan (Neofelis nebulusa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Owa (Hylobates), Burung Enggang (Buceros sp.), Kuntul (Ergretta garzetta)

Untuk menuju Suaka Margasatwa Kerumutan dari Kota Pekanbaru dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda 4 dan 2 melalui Jalan Lintas Timur Sumatera.

Akses menuju Suaka Margasatwa ini dapat melalui Kecamatan Teluk Meranti dan Kecamatan Kerumutan (Kabupaten Pelalawan) serta Kecamatan Kuala Cenaku, Kecamatan Rengat, dan Kecamatan Rengat Barat (Kabupaten Indragiri Hulu).

Akses yang relatif mudah menuju ke kawasan adalah melalui Kecamatan Kerumutan dan Kecamatan Teluk Meranti (Kabupaten Pelalawan) dan Kecamatan Rengat Barat (Kabupaten Indragiri Hulu), dengan waktu tempuhsekitar 4 hingga 5 jam perjalanan .

Sedangkan untuk memasuki suaka margasatwa dapat menggunakan kendaraan roda 4 dan 2 yang dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan air. Namun pada musim hujan, kendaraan yang dapat digunakan hanyalah kendaraan roda 2 yang dilanjutkan dengan kendaraan air.

6. Suaka Margasatwa Bukit Batu

Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Batu terletak di Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis.Berdasarkan pengelolaan wilayah kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Suaka Margasatwa Bukit Batu.

Suaka Margasatwa Bukit Batu berada di wilayah kerja Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II yang dibantu oleh Seksi Konservasi Wilayah III.

Suaka Margasatwa Bukit Batu memiliki potensi wisata alam yang dapat dimafaatkan dari kawasan tersebut, seperti keberadaan Sungai Tapung yang membelah kawasan SM Bukit Batu dapat digunakan untuk kegiatan susur sungai menggunakan perahu sambil mengamati hutan di kanan kiri yang masih asri. Kegiatan lain yang bisa dikembangkan adalah pengamatan burung dan trecking ringan di dalam kawasan hutan.

Flora : Kelat (Eugenia claviflora), Meranti (Shorea sp.), Bintagur (Calophyllum sp.), Suntai (Palaquium walsurifolium), Punak (Tetramerista glabra), Ramin (Gonystylus bancanus), Durian Hutan (Durio sp.), Balam (Palaquium spp.)

Fauna: Kekah/Simpai (Presbytis melalophos), Siamang (Symphalangus/Hylobates syndactalu), Biawak (Varanus sp.), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Enggang/Rangkong (Buceros sp.), Babi Hutan (Sus scrofa), Beruk (Macaca nemestrina), Buaya Muara (Crocodylus porosus), Rusa (Cervus sp.), Tapir (Tapirus indicus), Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Beruang Madu (Helarctos malayanus).

Bengkalis merupakan kota terdekat dengan SM Bukit Batu. Pekanbaru ke Bengkalis dapat ditempuh melalui jalan darat dan sungai dengan kendaraan darat perlu waktu sekitar 6 jam. Akses dari Pekanbaru ke Bengkalis juga dapat dicapai dengan speedboat melalui Sungai Siak selama sekitar 3 jam. Akses ke area Suaka Margasatwa Bukit Batu harus ditempuh melalui sungai (Gambar. 1) atau melewati kanal-kanal perusahaan (Gambar. 2) hingga menjangkau tepi kawasan suaka margasatwa.

7.Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil

Kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil memiliki luas sekitar 50.000 hektare .

Penunjukan kawasan Giam Siak Kecil sebagai suaka margasatwa diperuntukkan bagi perlindungan hidupan liar khususnya mamalia besar, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus), serta untuk perlindungan tumbuhan Giam (Cotylelobium malayanum).

Pada tahun 1986, Menteri Kehutanan menunjuk kembali kawasan ini melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 173/Kpts-II/1986 tanggal 6 Juni 1986 dengan luas 84.967 hektar tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Provinsi Riau. Berdasarkan Surat Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XII Tanjung Pinang Nomor S.188/CII/BPKH/XII-2/2008 tanggal 26 Agustus 2008 disebutkan bahwa kawasan hutan SM. Giam Siak Kecil telah dilakukan penataan batassepanjang 164,43 km dan telah temu gelang dengan luas 84.967,44

Flora: Giam (Cotylelobium spp), Meranti (Shorea sp. ), Kempas (Koompasia malaccensis), Pulai (Alsthonia spp.), Gerunggang (Syzygium sp.), Nibung (Oncosperma tigillarium)

Fauna: Gajah (Elephas maximus sumatranus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau dahan (Neofelis nebulusa), Harimau sumatra (Panthera tigris), Buaya Muara (Crocodylus porosus).

Hutan rawa gambut SM. Giam Siak Kecil dengan sungai-sungai yang membelahnya serta tasik-tasik yang terbentuk di sekitarnya, tipe ekosistem hutan rawa gambut yang unik dengan kekayaan flora faunanya menjadikan kawasan ini potensial dikembangkan sebagai laboratorium penelitian, pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat luas serta pengembangan wisata alam terbatas.

untuk menuju ke tengah kawasan SM. Giam Siak Kecil dapat ditempuh dengan menyusuri Sungai Siak Kecil yang membelah kawasan.

Jika menggunakan perjalanan darat ke pinggir kawasan, dapat melewati kota Perawang atau kota Duri. Perjalanan dari Pekanbaru melewati Perawang membutuhkan waktu tempuh ± 1 jam, selanjutnya mengarah ke Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak dengan melintasi jalan operasional konsesi PT. Arara Abadi selama 2 jam.

Perjalanan dari Pekanbaru melewati Duri, Kabupaten Bengkalis membutuhkan waktu tempuh ± 3 jam. Perjalanan menuju kawasan SM. Giam Siak Kecil terdekat dari Duri adalah Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bandar Laksamana di bagian utara atau Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis di bagian selatan, masing-masing membutuhkan waktu ± 1 jam dengan melintasi jalan operasional konsesi PT. Arara Abadi

8.Suaka Margasatwa Tasik Belat

Suaka Margasatwa Tasik Belat secara administrasi terletak di Kabupaten Siak, hal ini didasarkan pada Pembentukan Pemerintahan Kabupaten Siak dikukuhkan dengan Undang-Undang No. 53 tahun 1999, oleh Menteri Dalam Negeri (ad interim) Feisal Tanjung pada tanggal 12 Oktober 1999. Kabupaten Siak merupakan Kabupaten Pecahan dari Kabupaten Bengkalis. Luas SM Tasik Belat 2.529 Ha yang terletak di 0˚ 40’ – 0˚ 44’ LU dan 102˚ 41’ - 102˚ 45’ BT. Berdasarkan wilayah administrasi, lokasi suaka margasatwa Tasik Belat terdapat di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Siak seluas 2.044,53 Ha dan kabupaten Pelalawan seluas 484,47 Ha.

Secara administrasi desa, kawasan SM Tasik Belat terletak di Desa Teluk Lanus Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak. Dalam administrasi kehutanan, saat ini kawasan tersebut termasuk kedalam Seksi Konservasi Wilayah II Balai Besar KSDA Riau. Pada tahun 1993 telah dilakukan pengukuran luas areal serta tatabatas sepanjang 19,50 Km dari rencana 20 Km dan telah temu gelang, akan tetapi belum ditetapkan.

Flora : Ramin (Gonystillus bancanus), Meranti (Shorea sp.), Suntai (Palaqium walsurifalium), Punak (Tetramerista glabra), Kempas (Koompassia malaccensjs), Bitangur (Calophillum spp.)

Fauna : Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau loreng sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Rangkong (Rhyticeros undu latus), Raja udang (Halcyon capencis), Biawak (Varanus salvator),

Suaka Margasatwa Tasik Belat Dapat ditempuh dengan Route : Pekanbaru - Siak (kendaraan darat) - Kawasan (speed boat), waktu tempuh ± 8 jam. Pekanbaru Selat Panjang - Kawasan (transportasi air), waktu tempuh ± 5 jam.

Perkusi Karang Taruna Perwira Desa Petapahan Jaya Kampar Provinsi Riau

Kisah Suardi, Relawan Asal Riau

Mal Pekanbaru

9. Suaka Margasatwa Tasik Besar Serkap

Suaka Margasatwa Tasik Besar Serkap Ditunjuk berdasarkan SK. Menhut No. 173/Kpts-II/1986 tanggal 6 Juni 1986 dengan luas kawasan 3.200 ha. Kawasan sudah dilakukan tata batas dan temu gelang dan penetapan SK.Menhut No.95/II/2014 Tanggal 24 Januari 2014 dengan luas kawasan 4.978,98 akan tetapi belum dikukuhkan/ditetapkan.

Secara geografis terletak di 0°35’ - 0° 36’ LU dan 102° 39’ - 102° 44’ BT. Kawasan ini berada di Kec. Kuala Kampar Kab. Pelalawan Prov Riau dan Wilayah Kerja Seksi Konservasi Wilayah I Balai Besar KSDA Riau.

Flora : Ramin (Gonystylus bancanus), Meranti (Shorea sp), Suntai (Palaquium walsurifollum), Punak (Tetramerista glabra), Kempas (Koompassia malaccensis), Bintangur (Callophylum sp)

Fauna : Beruang madu (Helarctos malayanus), Harimau loreng sumatera (Panthera tigris sumatrae), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemetrima), Belibis (Dendrocygna javanica), Enggang (Bucheros rhinoceros), Kuntul (Egretta sp)

Ekosistem yang ada di kawasan Suaka Margasatwa Tasik Besar Serkap ini merupakan Hutan hujan tropis dataran rendah dengan type ekosistem rawa gambut.

Kawasan Suaka Margasatwa Tasik Besar Serkap dapat ditempuh dengan Rute Pekanbaru – Teluk Meranti - Kawasan dengan waktu tempuh ± 12 jam.

10.Suaka Margasatwa Bukit Rimbang - Bukit Baling

Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang - Bukit Baling pada awalnya ditunjuk melalui Keputusan Gubernur KDH Tk. I Riau Nomor 149/V/1982 tanggal 21 Juni 1982 tentang Penunjukan Areal Hutan di sekitar Bukit Rimbang Bukit Baling sebagai kawasan Hutan Tutupan / Suaka Alam seluas 136.000 hektar.

Bukit Rimbang Bukit Baling ditunjuk sebagai kawasan suaka alam dikarenakan areal hutan di sekitar Bukit Rimbang Bukit Baling memiliki fungsi suaka margasatwa dan sumber mata air yang perlu dibina kelestariannya, untuk kepentingan pengaturan tata air, pencegahan bahaya banjir, tanah longsor dan erosi.

Sebelum ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa, di kawasan ini terdapat beberapa perusahaan pengusahaan hutan maupun Batubara yang beroperasi, antara lain HPH PT Brajatama I, PT Brajatama II dan PT Union Timber.

Pada sebelah Timur kawasan beroperasi HPHTI PT Riau Andalan Pulp and Paper, dan sebelah Tenggara dilakukan oleh eksplorasi batubara oleh PT Manunggal Inti Artamas dan PT Nusa Riau.

Selanjutnya setelah dilakukan penataan batas dan telah temu gelang, SM Bukit Rimbang Bukit Baling ditetapkan sebagai kawasan suaka margsatwa berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 3977/Menhut-VIII/KUH/2014 tanggal 23 Mei 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling Seluas 141.226,25 hektar di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

SM Bukit Rimbang Bukit Baling juga telah ditetapkan sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Bukit Rimbang Bukit Baling berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK. 468/Menlhk/Setjen/PLA.0/6/2016 tanggal 17 Juni 2016.

Flora : kelat (Syzygium spp), medang (Dehaasia caesia), Mendarahan (Myristica iners BI), Geronggang (Cratoxylon celebicum), Rambutan (Nephelium lappaceum), Mempening (Quercus spp), Resak (Vatica rassak), Kedondong (Spondias pinnata kurz), Meranti (Shorea sp), Semangkok, Balam (Palaquium sp), Payena (Payena sp), Berembung, Ubar (Shorea pauciflora King), Punak (Tetramerista glabra Miq.), Bintangur (Calophyllum spp), Marpoyan (Rhodamia cinera), Kopi-kopi (Rubiceae), Pagar-pagar (Ixonanthes icosandra), Anai-anai, delik, Akar Gantung (Linia sp), Jelutung (Dyera sp), Rotan (Korthalsia sp, Calamus sp), Pakis, Sendok – sendok, Kantung semar (Nepenthes sp) dan Raflesia merah putih (Rafflesia hasseltii) dan lain-lain.

Fauna : Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), Macan ahan (Neofelis diardi), Kucing emas (Catopurna temminckii), Kucing hutan (Felis bengalensis), Kucing bulu (Felis marmorata), jenis – jenis mamalia lain yaitu Kijang (Muntiacus muntjak), Babi berjenggot (Sus barbatus), Kancil/napu (Tragulus napu), Rusa sambar (Rusa unicolor), Kambing hutan (Capricornis sumatraensis), Babi hutan (Sus scrofa), Linsang (Prionodon linsang).

Selain itu, terdapat juga jenis – jenis mamalia lainnya, seperti Musang belang (Hemigalus derbyanus), Binturong (Arctictis binturong), Berang-berang pantai (Lutra lutra), Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), Ajag (Cuon alpinus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Tenggalung malaya (Viverra tangalunga), Musang kerah putih (Mustela nudipes), Musang galling (Paguma larvata), Garangan (Herpestes sp), Berang berang (Lutra sp), Musang tenggorokan kuning (Martes flavigula), Tapir asia (Tapirus indicus), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachyura), Jelarang bilalang (Ratufa affinis), Landak ekor panjang (Trichys fasciculata), Tikus rembulan (Echinosorex gymnura), Tikus (Rattus sp), Bajing tanah moncong runcing (Rhinosciurus laticaudatus) dan Tupai / Bajing. Jenis – jenis primata yaitu Owa ungko (Hylobates agilis), Kokah (Presbytis femoralis), Monyet daun (Presbytis sp),

Potensi Jasa Lingkungan:

Wisata Petualangan dan Landscape (Tracking dan Penyusuran Sungai)

Untuk mencapai lokasi objek wisata maka digunakan perahu/ boat (istilah daerah: piyaujohnson atau robin) melalui sungai utama (Sungai Subayang) dimana pada daerah tertentu di sepanjang sungai dapat dilihat adanya pondok tempat masyarakat lokal berladang dan berternak, atau melihat kehidupan masyarakat lokal yang turun ke muara atau naik ke hulu sungai dengan menggunakan perahu.

Perjalanan/trekking dilakukan dengan berjalan kaki melalui hutan-hutan primer dengan kondisi tanah yang berlumpur, dan selama perjalanan dapat menikmati pohon-pohon dari Famili Dipterocarpaceae, anggrek hutan dan kehidupan liar.

Bila memasuki Desa Tanjung Belit dan Desa Salo atau Subayang Jaya maka kita akan menjumpai air terjun yang memiliki panorama yang indah dan alami. Untuk wisata trekking dan penyusuran sungai ini akan sangat menarik bagi mereka yang menyukai tantangan dan kehidupan liar.

Pengamatan Burung (Bird watching; Nest; Jungle)

Pengamatan burung dapat dilakukan di hutan-hutan primer dan sekunder atau sepanjang sungai saat perjalanan menuju ke lokasi wisata.

Berbagai jenis burung dapat kita lihat di antaranya murai daun, murai batu, kacer, dll. Beberapa masyarakat juga telah berhasil menangkarkan beberapa jenis burung sehingga para wisatawan pun dapat menyaksikan penangkaran secara langsung.

Pengamatan Primata

Pengamatan primata dapat dilakukan pada saat menyusuri sungai ataupun ketika melewati hutan primer atau sekunder yang ada di SM Bukit Rimbang Bukit Baling. Jenis primata yang dapat dilihat atau diamati secara langsung dan mudah adalah monyet ekor panjang (Macaca fasicularis). Selain itu, di sepanjang Sungai Subayang juga dapat dijumpai Siamang (Symphalangus syndactylus) dan Owa ungko (Hylobates agilis).

Wisata Air Terjun Batu Dinding dan Pengamatan Track Harimau dan Jenis Kucing Hutan Lainnya

Satwa dilindungi yang terdapat di SM Bukit Rimbang Bukit Baling diantaranya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan empat jenis kucing hutan lainnya.

Untuk Pengamatan Raflesia Merah-Putih (Rafflesia hasseltii) dan Objek Wisata Budaya (Lubuk Larangan, Semah Rantau dll)

Secara umum terdapat dua akses utama menuju kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling adalah melalui jalan darat maupun sungai utama yaitu Sungai Subayang. Di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling sendiri pada bagian Utara terdapat jalan ilegal di dalam kawasan yang dapat dilalui sepeda motor. Kondisi ini juga turut andil dan berpotensi mengancam kelestarian kawasan.

Jalur menuju kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling dapat ditempuh melalui Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar yang berjarak sekitar 100 km atau sekitar 2 – 2,5 jam dari Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Akses masuk ke dalam kawasan selanjutnya menggunakan perahu (akses sungai) kurang lebih setengah jam menuju Desa Muara Bio yang merupakan pintu masuk kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Jalur lain menuju SM Bukit Rimbang Bukit Baling juga dapat ditempuh melalui kantor resort Bukit Rimbang dan Bukit Baling di Desa Petai, yang berjarak ± 120 km atau sekitar 3 – 3,5 jam dari Kota Pekanbaru ke Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi dengan menggunakan transportasi darat.

Dari kantor resort menuju akses terdekat masuk dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling yaitu Sungai Tapi yang merupakan ujung dari kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling berjarak kurang lebih 12 km dengan menggunakan transportasi darat.

Selain itu terdapat akses jalan yang dapat dilalui kendaraan besar seperti mobil dan truk menuju Desa Pangkalan Indarung yang berbatasan langsung dengan kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

SM Bukit Rimbang Bukit Baling juga berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat sehingga kawasan ini dapat juga diakses melalui jalan dari Provinsi Sumatera Barat. Kondisi ini disatu sisi dapat memberikan ancaman apabila dalam rencana pengembangan maupun pembangunan aksesibilitas tidak mempertimbangkan prinsip – prinsip kelestarian kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling dan kawasan hutan disekitarnya.

Ikuti kami di
Penulis: Aan Ramdani
Editor: Ahmad Nurrosikin
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved